Perayaan Tahun Baru tradisional Thailand, Songkran, yang seharusnya penuh sukacita, justru berakhir tragis tahun ini. Data resmi menyebutkan, festival pada pertengahan April 2026 itu telah merenggut 71 nyawa hanya dalam dua hari pertama. Sungguh angka yang memilukan.
Festival yang identik dengan perang air dan kemeriahan ini sejatinya adalah momen spiritual. Warga Thailand saling menyiram air sebagai lambang penyucian, sekaligus menghormati keluarga dan leluhur. Namun, belakangan, daya tariknya sebagai pesta raksasa justru mendatangkan jutaan turis dan, sayangnya, risiko yang tak terelakkan.
Puncak horor terjadi pada hari kedua, tepatnya tanggal 11 April. Menurut laporan Pusat Operasi Keselamatan Jalan (RSOC), dalam satu hari itu saja tercatat 50 kematian. Ditambah korban hari pertama, total korban jiwa melonjak menjadi 71 orang.
Kerusakan tak berhenti di sana. Pada hari yang sama, negeri Gajah Putih itu mencatat 208 kecelakaan yang menyebabkan 185 orang luka-luka. Jika dirunut sejak 10 April, angkanya semakin suram: 344 kecelakaan, 317 luka-luka, dan 71 meninggal. Sebuah statistik yang sungguh mengerikan untuk sebuah perayaan.
Beberapa wilayah menjadi titik hitam. Nakhon Ratchasima dan Phitsanulok, misalnya, masing-masing mencatat tiga kematian di hari kedua. Sementara Provinsi Nan memimpin dalam jumlah kejadian kecelakaan, dan Nan bersama Lampang punya korban luka tertinggi.
Lalu, apa penyebab utama semua ini? Ternyata, faktor manusia masih jadi biang keladi. Hampir separuh kecelakaan (46.71%) dipicu oleh kecepatan tinggi. Sementara itu, mengemudi di bawah pengaruh alkohol menyumbang 24.76%. Mayoritas korbannya adalah pengendara sepeda motor, yang mendominasi 61% dari total kasus. Jalan lurus di jalur utama justru menjadi tempat paling berbahaya, dengan korban terbanyak berusia muda, antara 20 hingga 29 tahun.
Menyikapi musibah tahunan yang seolah jadi ritual kelam ini, pemerintah Thailand tak tinggal diam. Otoritas setempat mengeluarkan pernyataan tegas.
"Pemerintah Thailand meningkatkan pengawasan dengan penegakan hukum terhadap pelanggaran lalu lintas, larangan penjualan alkohol kepada usia di bawah 20 tahun, pengawasan ketat di area perayaan air, hingga pendirian pos pemeriksaan komunitas untuk mencegah pengemudi berisiko," kata mereka.
Langkah-langkah pencegahan itu jelas diperlukan. Namun, pertanyaannya, apakah cukup untuk mengubah budaya berkendara di tengah euforia festival yang sudah mengakar? Songkran 2026 meninggalkan duka yang dalam sebuah pengingat pahit bahwa di balik kemeriahan, ada nyawa yang taruhannya.
Artikel Terkait
Angin Kencang Diduga Jadi Pemicu Utama Blackout Listrik di Sumatera
Iran Mulai Persiapan Pemakaman Kenegaraan untuk Khamenei yang Tewas dalam Serangan AS-Israel
Pemerintah Pastikan Pelemahan Rupiah Tak Ganggu Pasokan Energi Nasional, Genjot PLTS 100 GW
Kebakaran di Tambora Hanguskan 27 Rumah, 200 Jiwa Mengungsi