Semangat Kartini itu nyata, dan ia hidup dalam langkah-langkah sederhana perempuan yang tak kenal lelah. Seperti Ibu Dewi Priyanti, misalnya. Perempuan asal Solo ini memutuskan merantau ke Jakarta dengan satu tekad: mengubah nasib. Mimpi itu ia wujudkan, dimulai dari nol sebagai penjaga warung kecil. Hari-harinya dijalani dengan penuh keyakinan, yang selalu ia sematkan dalam doa-doa hariannya.
Perjalanannya kemudian berubah. Di tengah kesibukan, ia bertemu dengan seorang "kakak seragam putih biru". Rupanya, orang itu berasal dari Permodalan Nasional Madani (PNM), lembaga keuangan plat merah yang fokus memberdayakan usaha ultra mikro. Pertemuan itu menjadi pintu awal.
Dewi punya bekal: kemampuan memasak. Dari warung sederhana, ia mulai membangun usahanya perlahan. Menu ditambah, pelanggan dilayani dengan sepenuh hati. Ia belajar dari setiap pengalaman. Bergabung dengan PNM Mekaar membuka kesempatan yang lebih luas. Pembiayaan awalnya cuma 2 juta, tapi kini berkembang hingga 10 juta. Usahanya menunjukkan pertumbuhan yang signifikan. Tapi, angka-angka itu bukan segalanya. Kuncinya justru ada pada keberanian dan konsistensinya yang tak pernah padam.
Tak berhenti di situ, Ibu Dewi juga aktif di ranah sosial. Ia dipercaya menjadi Ketua Bank Sampah Unit (BSU) Kembangs. Ini membuktikan peran perempuan bisa sangat sentral dalam membawa perubahan di lingkungannya.
Ia mengungkapkan, ada haru yang mendalam menyaksikan usahanya bertumbuh. Apalagi saat diberi kepercayaan memimpin kelompok bank sampah.
Artikel Terkait
Timnas U-17 Indonesia Bantai Timor Leste 4-0 di Pembuka Piala AFF
Mendagri Tito Soroti Pengawasan Dana Otsus dan Keistimewaan, Sorot DIY Sebagai Model
Ekonom UI Proyeksikan Pertumbuhan Kuartal I 2026 Capai 5,54%, Tapi Peringatkan Pelemahan Daya Beli
Pengguna Tri Dapat Tukar Poin Jadi Voucher Diskon Hotel Mister Aladin