JAKARTA – Upaya untuk meredakan ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran kembali menemui jalan buntu. Negosiasi damai yang digelar di Islamabad, Pakistan, akhirnya ditutup tanpa ada kesepakatan yang dicapai pada Minggu (12/4/2026). Kabar ini langsung dikonfirmasi oleh Wakil Presiden AS, JD Vance.
Menurut Vance, perundingan alot itu gagal menyentuh titik temu. Masalahnya, ujarnya, masih berkutat pada hal yang sama: program nuklir Iran. Pihak AS bersikeras pada satu prinsip yang tidak bisa ditawar-tawar lagi.
“Kami membutuhkan komitmen yang jelas dan tegas dari Iran,” tegas Vance.
“Komitmen untuk tidak mengembangkan senjata nuklir. Itu syarat mutlak.”
Namun begitu, pihak Teheran punya penjelasan yang berbeda sama sekali. Mereka membantah keras segala tuduhan bahwa aktivitas nuklirnya mengarah ke pembuatan senjata. Bagi Iran, program pengayaan uranium yang mereka jalankan murni untuk kepentingan sipil, terutama penyediaan energi.
Jadi, kedua pihak seperti berbicara dalam bahasa yang berbeda. AS mencurigai maksud terselubung, sementara Iran merasa haknya untuk energi damai terus diganggu. Situasi ini, sayangnya, membuat prospek perdamaian di kawasan itu masih terasa sangat jauh.
Artikel Terkait
Indonesia Resmi Peroleh 127,3 Hektar di Pulau Sebatik dari Malaysia
Pos Indonesia Siap Jadi Penggerak Utama Konsolidasi BUMN Logistik
Pemerintah Pastikan Harga Kedelai Masih Sesuai Acuan, Ancaman Sanksi untuk Importir Bandel
Menteri Haji Ingatkan Risiko Diblacklist bagi Calon Jemaah Tanpa Visa Resmi