Sekretaris Kabinet: Presiden Prabowo Fokus pada Hal Strategis, Tak Terganggu Isu Penjatuhan

- Selasa, 07 April 2026 | 12:48 WIB
Sekretaris Kabinet: Presiden Prabowo Fokus pada Hal Strategis, Tak Terganggu Isu Penjatuhan

JAKARTA – Isu politik kembali memanas. Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya akhirnya angkat bicara menanggapi pernyataan pengamat Saiful Mujani yang belakangan viral. Dalam pernyataannya, Saiful sempat menyinggung soal upaya menjatuhkan Presiden Prabowo Subianto.

Tapi, tampaknya Teddy belum terlalu menyimak detail pernyataan kontroversial itu. "Saya masih banyak sekali kerjaan. Saya belum lihat beliau bicara apa. Itu kira-kira," ujarnya dengan santai, saat ditemui di sekitar Istana Negara, Selasa lalu.

Meski begitu, ia langsung menegaskan satu hal. Menurutnya, Presiden Prabowo saat ini sama sekali tidak terganggu dengan hiruk-pikuk seperti itu. Fokusnya tertuju pada hal-hal yang jauh lebih besar dan bersifat strategis bagi negara.

"Apalagi Bapak Presiden, Bapak Presiden ngurusin hal besar, lagi fokus dengan hal-hal yang lebih strategis," tegas Teddy.

Lantas, apa sebenarnya yang diucapkan Saiful Mujani hingga ramai dibicarakan?

Dalam sebuah video yang beredar, pendiri SMRC itu terlihat menyampaikan pandangannya. "Saya alternatifnya bukan pada prosedur yang formal impeachment seperti itu, itu tidak akan jalan," katanya.

Kemudian ia melanjutkan, "Yang jalan hanya ini, bisa nggak kita mengonsolidasikan diri untuk menjatuhkan Prabowo, hanya itu."

Ucapan itu, seperti diduga, langsung memantik reaksi. Salah satunya datang dari Hasan Nasbi, mantan Kepala Kantor Komunikasi Keppresidenan. Hasan tak ragu menyebut pernyataan Saiful sebagai provokatif, apalagi disampaikan dalam momen halalbihalal.

"Memang ada kelompok masyarakat di bangsa kita, maupun di negara lain yang itu mengaku pejuang demokrasi, tapi mereka mengukur demokrasi dengan itu isi perutnya sendiri," kata Hasan lewat unggahan video di Instagram.

Ia lalu menguraikan kritiknya lebih lanjut. Menurut Hasan, pola pikir kelompok seperti ini seringkali sederhana: jika keinginannya terpenuhi, pemerintah dianggap demokratis. Sebaliknya, jika tidak, cap 'tidak demokratis' pun mudah diberikan.

"Ada orang-orang macam begini itu ada," ujarnya. "Dan orang-orang macam begitu biasanya selalu tergoda untuk menyampaikan kata-kata yang melampaui batas."

"Kata-kata yang melampaui batas itu adalah 'ayo kita jatuhkan pemerintah, ayo kita gulingkan pemerintah', atau yang agak konstitusional dikit, 'ayo kita impeach pemerintah'," sambung Hasan.

Di akhir tanggapannya, Hasan menyiratkan ada akar masalah lain. Ia menilai orang-orang tersebut masih menyimpan kekecewaan karena tidak beruntung dalam kontestasi pemilu sebelumnya.

"Mungkin hasrat untuk berkuasa tanpa pemilu ini yang meronta-ronta dalam jiwa mereka," pungkasnya. "Mereka ingin menempuh sebuah jalan untuk berkuasa tanpa melalui proses demokrasi. Mereka itu ngakunya pejuang demokrasi, tapi nggak pernah mau paham apa esensi demokrasi."

Begitulah situasinya. Sementara pihak istana memilih bersikap rendah hati dan tetap fokus bekerja, di luar sana gelombang komentar politik terus mengalir. Masing-masing pihak punya narasinya sendiri.

Editor: Yuliana Sari

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar