Di tengah pesatnya perkembangan teknologi informasi, Polri angkat bicara. Kali ini, peringatan mereka tertuju pada potensi niat jahat yang mengintai di balik penggunaan Artificial Intelligence (AI).
Peringatan itu disampaikan dalam sebuah dialog publik bertajuk 'Tantangan Hukum di Era Artificial Intelligence' di Grandkemang Hotel, Jakarta Selatan, Selasa (7/4/2026). Acara yang melibatkan Bareskrim Polri, Kementerian Komdigi, dan sejumlah profesional di bidang AI ini memang cukup menarik perhatian.
Kadiv Humas Polri, Irjen Jhonny Edison Isir, yang hadir memberikan sambutan, langsung menyinggung sisi gelap kemajuan.
"Setiap sisi kemajuan teknologi pasti ada sisi gelapnya," ujarnya.
Menurut Jhonny, kemajuan yang ada justru memungkinkan pihak-pihak tertentu melancarkan aksi dengan niat jahat. Skala, kecepatan, dan kompleksitasnya, katanya, sudah jauh berbeda dibanding era konvensional dulu.
Dia lantas merujuk pada catatan Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN). Data mereka menyebut ada jutaan lalu lintas siber yang dikategorikan sebagai kejahatan. Rentangnya luas, mulai dari phishing dan malware biasa, hingga manipulasi data canggih yang memanfaatkan AI.
Di sisi lain, Jhonny secara khusus mengingatkan publik soal bahaya teknologi deepfake. Ini yang perlu diwaspadai betul.
"Kalau kita tidak cerdas, kita akan tertipu, ada deepfake. Seakan-akan orang ini yang ngomong," jelasnya.
Bayangkan, lanjut Jhonny, jika figur yang direkayasa itu adalah seorang tokoh berpengaruh. Namun substansi yang dibicarakan sama sekali bukan kehendak asli sang tokoh. Dampaknya bisa sangat luas dan berbahaya.
Karena itulah, dia menekankan pentingnya respons proaktif dari jajarannya sendiri. Polri dituntut untuk bisa merespons dengan cepat dan tepat setiap perkembangan teknologi, tak hanya AI, apalagi jika sudah terintegrasi dengan sistem lain.
"Keamanan ruang digital yang sehat itu menjadi sesuatu yang sangat penting sekali," tegas Jhonny.
Namun begitu, dia sadar betul bahwa ini bukan tugas Polri sendirian. Butuh kolaborasi dari semua pihak. Satu elemen saja tidak akan cukup untuk memastikan ruang siber kita benar-benar aman dan sehat.
Artikel Terkait
Menelusuri Jejak Batavia: Tur Sejarah Jalan Kaki di Jakarta yang Hidupkan Kembali Kejayaan Sunda Kelapa
Wali Kota London Sadiq Khan Ungkap Pengalaman Spiritual Usai Jalani Ibadah Haji 2026
Kementan Pastikan Stok Hewan Kurban 2026 Surplus 800 Ribu Ekor, Pasokan Capai 3,2 Juta
Juventus Gagal ke Liga Champions, CEO Konfirmasi Rencana Jual Massal Pemain