Angkutan Lebaran tahun ini, tepatnya 2026, membawa kabar menggembirakan. Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi tak bisa menyembunyikan senyumnya saat membacakan data terbaru. Ternyata, semakin banyak warga yang memilih naik bus, kereta, kapal, atau pesawat untuk mudik. Tren penggunaan transportasi publik sedang naik daun.
Angkanya cukup mencengangkan. Selama periode pengawasan intensif dari 13 sampai 29 Maret lalu, tercatat ada 23,54 juta orang yang menggunakan angkutan umum. Kalau dibandingin dengan tahun sebelumnya, jumlah itu melonjak cukup tajam, yaitu sekitar 10,87 persen. Kenaikan ini terjadi merata di hampir semua sektor.
Menurut rincian yang disampaikan Dudy, angkutan penyeberangan justru jadi primadona dengan pertumbuhan penumpang tertinggi, mencapai 15,36 persen. Disusul kemudian oleh angkutan jalan yang naik 11,64 persen. Kereta api juga tak kalah, menarik 10,13 persen penumpang lebih banyak. Untuk angkutan laut dan udara, kenaikannya masing-masing 9,86 dan 6,97 persen.
"Ini menunjukkan kepercayaan masyarakat terhadap angkutan umum semakin meningkat. Ke depan, tren ini harus terus kita jaga dan tingkatkan,"
ucap Dudy saat menutup Posko Angkutan Lebaran 2026, Senin (30/3).
Di sisi lain, capaian ini tentu bukan datang tiba-tiba. Pemerintah merasa upayanya membuahkan hasil. Program-program seperti mudik gratis, diskon tiket, dan perbaikan layanan dinilai jadi pendorong utama. Masyarakat pun mulai percaya dan memilih untuk tidak membawa kendaraan pribadi.
Namun begitu, kesiapan operasional juga memegang peranan krusial. Kemenhub bersama berbagai pihak gencar melakukan pengawasan ketat. Mulai dari ramp check kendaraan, pengendalian operasional, sampai pemantauan di titik-titik rawan macet. Tujuannya satu: memastikan perjalanan mudik lancar dan aman.
Dudy punya harapan besar. Peningkatan ini bukan cuma untuk mengurangi kemacetan di jalur mudik saat itu saja, tapi juga mengubah kebiasaan masyarakat dalam jangka panjang. Ketergantungan pada kendaraan pribadi perlahan bisa dikikis.
Tapi, tentu ada tantangannya. Lonjakan penumpang yang signifikan ini harus diimbangi dengan layanan yang bagus. Jangan sampai niat baik masyarakat pupus karena ketidaknyamanan di perjalanan.
"Kami akan terus melakukan evaluasi dan perbaikan agar layanan transportasi publik semakin andal dan menjadi pilihan utama masyarakat,"
tegasnya.
Jadi, momentum positif ini memang patut disyukuri. Tapi pekerjaan rumahnya masih panjang. Yang jelas, langkah awal untuk membuat angkutan umum jadi pilihan pertama sudah terlihat.
Artikel Terkait
Blackout Bukan Hanya di Indonesia: Pengamat Soroti Gangguan Listrik di Negara Maju dan Pentingnya Penguatan Sistem Kelistrikan Nasional
Pengacara Roy Suryo Desak SP3 Kasus Ijazah Palsu Jokowi Berlaku untuk Semua Tersangka
49 Ekor Hewan Kurban Mulai Didistribusikan ke 11 Pulau di Kepulauan Seribu Jelang Iduladha
James Riady Dorong Percepatan Pembangunan Rusun Subsidi di Meikarta untuk Pekerja Industri Bekasi