Rabu (3/12) siang, Gedung DPR di Senayan jadi saksi pertemuan penting. Ketua DPR Puan Maharani menyambut tamu dari Beijing, Wang Huning, yang tak lain adalah Ketua Komite Nasional Majelis Permusyawaratan Politik Rakyat China (CPPCC). Pertemuan ini sekaligus membalas kunjungan Puan ke China setahun silam.
Ditemani Utut Adianto dari Komisi I dan Pinka Hapsari dari BKSAP, Puan langsung membuka pembicaraan dengan nada hangat. Rupanya, mereka sudah pernah bertemu muka sebelumnya.
"Saya sangat gembira bisa bertemu kembali dengan Yang Mulia, sejak pertemuan kita di Beijing pada bulan Mei tahun lalu," ucap Puan.
"Saya berterima kasih Yang Mulia dapat membalas kunjungan kami tersebut," sambungnya.
Namun begitu, obrolan cepat merambah ke isu-isu yang lebih berat. Puan tak menampik bahwa situasi global sedang tidak baik-baik saja. Krisis iklim, misalnya, bukan lagi sekadar wacana. Ia sudah jadi kenyataan pahit yang dirasakan langsung oleh rakyat Indonesia.
"Banjir dan longsor saat ini melanda berbagai wilayah di Indonesia," jelasnya kepada Wang Huning. Suaranya terdengar serius. Menurut Puan, kondisi ini sudah mencapai tahap yang mengkhawatirkan.
Dia lantas menekankan bahwa semua negara, tanpa terkecuali, harus lebih serius menepati janji mereka. Tentu saja, dengan mempertimbangkan kapasitas masing-masing. Tujuannya jelas: mencegah dampak krisis itu makin menjadi-jadi.
Di sisi lain, persoalan dunia tak cuma soal alam. Konflik geopolitik di berbagai penjuru, mulai dari Timur Tengah, Semenanjung Korea, hingga perang yang tak kunjung reda antara Rusia dan Ukraina, juga jadi perhatian. Puan mendorong adanya solusi damai yang permanen untuk semua itu.
"Kami yakin solusi damai yang permanen hanya dapat terwujud melalui kerja sama internasional," tegasnya.
Nah, dalam konteks kerja sama internasional inilah hubungan Indonesia-China mencuat. Puan menyebut, hubungan bilateral yang sudah terjalin selama 75 tahun ini adalah pondasi yang kuat. China disebutnya sebagai mitra strategis Indonesia di panggung global.
Kerja sama kedua negara memang terus bergulir. Berbagai pertemuan tingkat tinggi telah digelar. Puan bahkan menyebut kunjungan khusus Presiden Prabowo ke Beijing pada September lalu, dalam rangka memperingati 80 tahun kemenangan rakyat Tiongkok.
Tak ketinggalan, kerja sama di bidang ekonomi juga sudah banyak disepakati. Puan berharap kolaborasi yang konstruktif ini terus berkembang. Bukan hanya untuk kemajuan dan kesejahteraan kedua negara, tapi juga bisa memberi kontribusi nyata bagi negara-negara berkembang lainnya, atau yang sering disebut sebagai Global South.
"Saya berharap Indonesia dan Tiongkok dapat terus membangun dan mengembangkan kerja sama yang konstruktif untuk kemajuan ekonomi dan kesejahteraan kedua negara. Sekaligus turut berkontribusi untuk kemajuan ekonomi negara-negara berkembang atau Global South," pungkasnya.
Artikel Terkait
Menteri Pertahanan Israel Izinkan IDF Gunakan Kekuatan Penuh di Lebanon Meski Gencatan Senjata
BPSDMP Gandeng Tujuh Daerah Atasi Krisis SDM Transportasi
Guru Ngaji di Puncak Diduga Cabuli Lima Korban Laki-laki
HKTI: Stok Beras Bulog Penuh Jadi Bukti Swasembada Semakin Nyata