Laporan dari Wall Street Journal mengungkap tuntutan Iran yang cukup berat. Negeri itu disebut menetapkan standar tinggi untuk pembicaraan gencatan senjata. Apa isinya? Di antaranya, penutupan semua pangkalan militer Amerika di Teluk. Tak cuma itu, mereka juga menginginkan sistem pengumpulan biaya dari kapal-kapal yang melintasi Selat Hormuz.
Namun begitu, kabar penolakan langsung datang dari Teheran. Kantor Berita Fars, pada Rabu lalu, secara tegas menyatakan Iran tidak menerima proposal gencatan senjata. Poinnya jelas: mereka menginginkan pengakhiran perang secara total, bukan sekadar jeda sementara. "Perang harus benar-benar berakhir," begitu kira-kira semangat pernyataan itu.
Saluran Press TV Iran kemudian membeberkan lebih detail. Negara itu, menurut laporan mereka, takkan membiarkan Amerika Serikat yang menentukan waktu berakhirnya konflik. Lewat kantor berita milik pemerintah itu, seorang pejabat menguraikan lima tuntutan kunci Teheran. Isinya meliputi penghentian semua serangan, serta yang tak kalah penting: pengakuan dan jaminan internasional atas hak Iran untuk menjalankan otoritasnya di Selat Hormuz yang strategis itu.
Di tengah riuhnya klaim dari pihak Iran, respons AS justru terasa lebih dingin. Seorang pejabat Amerika yang dikutip Axios menyatakan, Washington belum menerima pesan resmi apa pun dari Iran yang menolak proposal gencatan senjata. Seolah ada kesenjangan informasi antara apa yang dikabarkan media dan komunikasi resmi antar pemerintah.
Pernyataan Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, semakin mengukuhkan jarak itu.
"Tidak ada pembicaraan dengan AS," tegasnya.
Dia mengakui memang ada pesan yang dikirim Washington melalui berbagai perantara. Tapi, bagi Araghchi, pertukaran semacam itu jauh dari bisa disebut sebagai negosiasi yang sesungguhnya.
Ada perkembangan menarik lain dari laporan Wall Street Journal. Disebutkan bahwa Menteri Luar Negeri Iran bersama Ketua Parlemennya, Mohammad Bagher Ghalibaf, untuk sementara waktu dihapus dari daftar target AS dan Israel. Langkah ini bisa dibaca sebagai sinyal, atau mungkin justru bagian dari dinamika rumit di balik layar.
Gelombang ketegangan ini tentu berimbas pada pasar. Harga minyak sempat terperosok, tapi kemudian berhasil bangkit cukup signifikan dari titik terendahnya. Ambil contoh kontrak berjangka minyak mentah Brent untuk pengiriman Mei. Angkanya terakhir turun sekitar 1,6 persen ke level USD102,77 per barel. Meski turun, posisi itu masih jauh di atas level sekitar USD70 sebelum perang pecah pada akhir Februari lalu.
Kekhawatiran para pedagang pun nyata. Mereka waswas melihat dampak ekonomi dari perang yang berkepanjangan. Tekanan itu sudah terlihat dari data Indeks Manajer Pembelian (PMI) S&P Global yang merosot ke level terendah dalam sebelas bulan. Angka itu jelas menunjukkan tekanan pada pertumbuhan ekonomi secara keseluruhan, didorong oleh kenaikan harga akibat guncangan energi dari medan perang.
Semuanya kini bergantung pada langkah berikutnya. Apakah jalan dialog benar-benar tertutup, atau justru ini bagian dari tawar-menawar alot yang biasa terjadi dalam diplomasi global.
Artikel Terkait
Sekretaris Kabinet Bantah Kunjungan Luar Negeri Prabowo Sekadar Seremonial, Paparkan Capaian Diplomasi 1,5 Tahun
Kebakaran Hebat Landa Pasar Jiung Kemayoran, 33 Mobil Damkar dan 100 Personel Dikerahkan
Sekretaris Kabinet: Efektivitas Diplomasi Diukur dari Hasil Konkret, Bukan Frekuensi Kunjungan
Kebakaran Landa Permukiman Padat di Kemayoran, 26 Mobil Damkar Dikerahkan