Analis: Gejolak Iran Bisa Pacu Pelemahan Rupiah hingga Rp20.400 per Dolar AS

- Selasa, 24 Maret 2026 | 15:35 WIB
Analis: Gejolak Iran Bisa Pacu Pelemahan Rupiah hingga Rp20.400 per Dolar AS

Gejolak di Iran kembali memicu kekhawatiran. Bukan cuma soal keamanan regional, tapi juga dampak ekonominya yang bisa merembet jauh, termasuk ke Indonesia. Menurut sejumlah analis, situasi ini berpotensi mempercepat tekanan eksternal yang sudah mengintai perekonomian kita.

Anthony Budiawan dari Political Economy and Policy Studies melihat konflik ini sebagai katalis yang berbahaya. Ia memperingatkan, efeknya bisa datang dari berbagai penjuru.

“Konflik Iran bisa menjadi katalis yang berpotensi mempercepat tekanan yang sudah ada. Kenaikan harga minyak, gangguan rantai pasok global, dan pergeseran arus modal dari emerging market ke aset safe haven akan menciptakan tekanan simultan terhadap neraca eksternal Indonesia,”

katanya, Selasa (24/3/2026).

Dampak yang paling langsung mungkin terasa pada nilai tukar. Anthony bilang, skenario pelemahan rupiah sama sekali bukan hal yang mengada-ada. Sejarah mencatat, depresiasi 15 sampai 20 persen itu sudah berulang kali terjadi saat tekanan global melanda.

Dengan kurs yang sekarang nyaris menyentuh Rp17.000 per dolar AS, hitung-hitungannya jadi cukup mencemaskan. Pelemahan 20 persen bisa dengan mudah membawa rupiah ke level Rp20.400.

“Angka ini bukan lagi angka spekulatif, tetapi berbasis data historis,”

tegasnya.

Dan itu belum yang terburuk. Kalau situasi geopolitik makin panas, tekanan terhadap rupiah bisa lebih ganas lagi. Anthony memperkirakan, depresiasi bahkan bisa melampaui 20 persen dalam waktu yang relatif singkat.

“Dalam kondisi geopolitik yang lebih ekstrem, depresiasi rupiah bahkan dapat melampaui 20 persen. Skenario tersebut dapat terjadi dalam waktu relatif singkat, tiga hingga enam bulan ke depan,”

ucapnya.

Masalahnya, fondasi ekonomi kita dinilai belum cukup kuat untuk menahan guncangan besar dari luar. Anthony menyoroti kerapuhan di beberapa sektor kunci.

“Fundamental ekonomi, baik fiskal, moneter, dan nilai tukar, sebenarnya sangat lemah, kalau tidak mau disebut rapuh. Ekonomi Indonesia sangat rentan terhadap guncangan eksternal, terutama geopolitik,”

pungkasnya.

Jadi, selain memantau perkembangan di Timur Tengah, kita mungkin juga perlu bersiap untuk gelombang tekanan ekonomi yang bisa datang lebih cepat dari perkiraan.

Editor: Novita Rachma

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar