“Kalau situasi ini berlarut-larut, perusahaan-perusahaan akan mulai melaporkan tekanan harga dalam laporan laba mereka. Efeknya bisa merambat ke seluruh rantai pasokan,” ujar Joe Saluzzi, co-head of equity trading di Themis Trading.
Pernyataannya itu bukan tanpa alasan. Konflik ini ternyata juga mempersulit kerja bank-bank sentral. Serangkaian keputusan moneter pekan ini, termasuk dari The Fed, menunjukkan betapa rumitnya mereka merumuskan kebijakan di tengah ketidakpastian. Gubernur The Fed, Christopher Waller, bahkan berencana menyampaikan perbedaan pendapat. Dia ingin mendorong pemotongan suku bunga, meski data pekerjaan dan lonjakan harga minyak justru meningkatkan ancaman inflasi.
Akibatnya, keyakinan pasar pun goyah. Meski para pembuat kebijakan AS masih bicara tentang setidaknya satu kali pemotongan suku bunga tahun ini, para trader justru semakin skeptis. Menurut data LSEG, mereka sekarang memprediksi pemotongan baru akan terjadi pada 2027. Mundur jauh dari perkiraan sebelumnya di Desember 2026.
Indikator ketakutan pasar, CBOE Volatility Index (VIX), mencerminkan kekhawatiran itu. Indeks itu melonjak 1,25 poin, menembus level 25.
Jadi, pada akhir sesi, ketiga indeks utama masih terperosok. Dow bertahan di 45.911,12, S&P 500 di 6.559,91, dan Nasdaq tersungkur di 21.831,68. Pasar menunggu perkembangan selanjutnya dengan napas tertahan.
Artikel Terkait
Pemudik Tersesat Ikuti Google Maps, Terperosok ke Jurang di Tasikmalaya
Takbiran di Jakarta: Gemerlap Perayaan dan Kisah Perempuan Perantau yang Pilih Tak Mudik
Penjualan Tiket Mudik KAI 2026 Tembus 82%, Okupansi Kereta Jarak Jauh Lampaui 100%
Gubernur DKI dan Wagub Akan Salat Idulfitri di Balai Kota, KH Maruf Amin Jadi Khatib