Di tengah upaya menjaga stabilitas pasokan energi dalam negeri, Indonesia mulai menjajaki sumber minyak baru. Kali ini, sorotan tertuju pada Brunei Darussalam. Negara tetangga itu diketahui memiliki produksi harian sekitar 100 ribu hingga 110 ribu barel minyak. Nah, potensi inilah yang coba digarap untuk diversifikasi pasokan.
Pembicaraan serius terjadi dalam sebuah pertemuan bilateral di Tokyo, Minggu lalu. Menteri ESDM Bahlil Lahadalia bertemu dengan Deputy Minister (Energy) Brunei, Dato Seri Paduka Awang Haji Mohamad Azmi Bin Haji Mohd Hanifah.
“Penjajakan impor minyak bumi dari Brunei menjadi salah satu opsi strategis yang kita dorong,” ujar Bahlil.
Ia menegaskan, langkah ini sekaligus untuk memastikan ketersediaan pasokan energi nasional tetap aman.
Menariknya, kerja sama yang dibicarakan bukan cuma soal jual-beli minyak mentah. Rupanya, Brunei juga punya ketertarikan khusus pada teknologi yang dimiliki Pertamina, khususnya Enhanced Oil Recovery (EOR). Teknologi ini bisa meningkatkan produksi di sumur-sumur tua, dan Brunei ingin mempelajarinya.
“Kami siap melakukan kerja sama untuk sharing pengalaman dan pengetahuan untuk berbicara teknis,” kata Bahlil menawarkan bantuan.
“Nanti akan saya siapkan dengan senang hati untuk berbagi dan belajar,” tambahnya.
Dari sisi Brunei, minat itu diakui. Dato Seri Paduka Awang Haji Mohamad Azmi menjelaskan, negaranya sudah menggunakan teknologi water flooding dan kini siap melangkah ke tahap lebih maju seperti chemical flooding lewat EOR.
“Kita tertarik di Indonesia, sebab ada teknologi EOR yang sudah diterapkan. Kita percaya kita bisa belajar dari Indonesia untuk mengoperasikan EOR,” ujarnya.
Pertemuan itu ternyata membuka lebih banyak peluang. Indonesia tak cuma menawarkan diri sebagai mitra belajar, tapi juga mengajak Brunei berinvestasi lebih dalam. Melalui kerangka Koridor Ekonomi Indonesia (KEI), Brunei diajak berpartisipasi membangun infrastruktur ketenagalistrikan, terutama di wilayah-wilayah terpencil yang punya sumber daya alam tapi masih gelap gulita.
Kerja sama dirancang cukup komprehensif, mencakup penguatan kapasitas SDM lewat program capacity building, dari hulu migas sampai pelatihan auditor energi terbarukan.
Ini seperti babak baru dalam hubungan kedua negara. Selama ini dikenal sebagai produsen migas utama, Brunei kini justru melirik serius transformasi energi yang dijalankan Indonesia. Delegasi mereka menyampaikan ingin mempelajari pengalaman Indonesia mengembangkan diversifikasi pembangkit, khususnya Energi Baru Terbarukan (EBT).
Menurut Bahlil, ada rencana besar di balik ketertarikan ini. Brunei disebut sedang mempersiapkan peningkatan kapasitas terpasang pembangkit listrik nasionalnya hingga lima kali lipat. Mereka ingin menambah sekitar 4 Gigawatt dari kapasitas saat ini yang hanya 1 Gigawatt.
“Ini adalah momentum emas bagi kolaborasi kawasan,” pungkas Bahlil.
Ia menjelaskan, Brunei melihat Indonesia sudah melangkah lebih maju dengan pembangkit dari berbagai sumber energi. Sementara Brunei sendiri masih sangat bergantung pada gas, yang menyumbang 99 persen untuk pembangkit listriknya, dan mereka berniat mengurangi porsi itu.
Pertemuan di Tokyo itu jelas bukan sekadar basa-basi diplomatik. Ada niat nyata dari kedua belah pihak untuk bertukar kelebihan dan menutupi kekurangan. Indonesia butuh pasokan, Brunei butuh teknologi dan pengalaman diversifikasi. Sepertinya, kolaborasi saling menguntungkan sedang dirangkai.
Artikel Terkait
Rupiah Terperosok, Kadin: Pelemahan Bisa Jadi Peluang Dongkrak Ekspor
Ali Mochtar Ngabalin: AS di Bawah Trump Sedang Mendikte Iran, Bukan Berperang
Pemerintah Resmi Luncurkan Permenhut Nomor 6 Tahun 2026 untuk Percepat Perdagangan Karbon Nasional
Menaker Terbitkan Aturan Baru, Hanya Enam Sektor yang Boleh Gunakan Tenaga Outsourcing