Janur Palmerah: Kisah di Balik Simbol Cinta yang Tak Pernah Tidur

- Senin, 02 Februari 2026 | 16:00 WIB
Janur Palmerah: Kisah di Balik Simbol Cinta yang Tak Pernah Tidur

Di pinggir jalan dekat Pasar Palmerah, Jakarta Barat, deretan janur tergantung rapi. Senin (2/2) itu, daun kelapa muda berjajar memanjang. Pemandangan yang mudah dikenali, bahkan bagi mereka yang hanya sekadar lewat.

Lapak-lapak sederhana itu berdiri tak jauh dari hiruk-pikuk pasar. Cuma berjarak sekitar 100 meter. Atapnya cuma terpal biru, tapi di dalamnya selalu ramai. Ada tujuh lapak yang bertahan di situ, tempat para pedagang sibuk menjajakan janur dalam berbagai bentuk.

Siang malam, aktivitas di sini tak pernah benar-benar berhenti. Dari tempat inilah, janur-janur itu berangkat menjadi penanda hajatan. Khususnya pernikahan, yang sering dimaknai sebagai lambang cinta dan harapan.

Salah satu sosok yang sudah akrab dengan kawasan ini adalah Yadi. Usianya 53 tahun, tapi banyak yang memanggilnya Pak Yadi Janur.

“Yah sekitar 20 tahunan lah,” ujar Yadi saat ditemui di kiosnya.

Dia mengakui, Palmerah memang sudah lama dikenal sebagai sentra janur di Jakarta. Permintaannya relatif stabil, jadi dia memilih bertahan di lokasi yang sama.

“Iya, di sekitar sini,” katanya singkat.

Keputusan menekuni usaha ini berawal dari banyaknya pesanan hajatan. Yadi datang dari Serang, Banten, dan langsung terjun ke bisnis janur tanpa pernah benar-benar mencoba pekerjaan lain.

“Iya banyak yang pesan, banyak pesanan,” katanya.

“Ke Jakarta langsung [usaha] janur, saya dari Serang.”

Bahan bakunya ia datangkan dari kampung halamannya di Pandeglang. Pasokan tidak datang setiap hari, tapi disesuaikan kebutuhan.

“Dari kampung, dari Pandeglang,” ujarnya. “Seminggu dua kali.”

Penjualannya fluktuatif. Kadang, dalam sehari bisa habis 10 ikat janur. Tapi yang paling laris justru ketupat.

“Kalau ini, kupat habisnya sehari itu 300–400 kupat,” kata Yadi.

Semua proses perangkaian ia kerjakan sendiri. Lapaknya nyaris tak pernah tutup, beroperasi 24 jam dengan penjagaan bergantian. Pembelinya beragam. Kebanyakan pedagang ketupat sayur dari sekitar Palmerah, tapi ada juga yang datang dari jauh khusus beli bahan mentah.

“Kalau ada yang dari luar itu yang beli bahannya,” jelasnya.

Produknya terbatas: janur, penjor, dan ketupat. Harganya sudah paten. Satu ikat ketupat (isi 100) Rp 50 ribu. Satu ikat janur Rp 15 ribu. Untuk penjor, dihitung per lembar.

“Itu habis 100 lembar, jadinya 150 ribu,” katanya.

Penjualan penjor benar-benar tergantung pesanan hajatan. “Nggak bisa ditentuin, tergantung pesanan aja, nunggu ada yang nikah atau hajatan itu. Tapi selalu ada aja yang beli.”

Tak jauh dari situ, Pulung (50) juga menjalani usaha serupa. Menurutnya, selain Palmerah, Kebayoran juga jadi titik penting bagi pedagang janur di Jakarta.

“Di Kebayoran ada,” katanya.

Aktivitas jual beli di sini berlangsung tanpa henti. Tapi suasana berubah saat Ramadan tiba.

“Siang malem, 24 jam,” ujar Pulung. “Kalau bulan puasa nggak ada yang bikin penjor, adanya bikin ketupat. Lebih banyak yang pesen ketupat deket Lebaran.”

Pulung punya jadwal khusus merangkai penjor: setiap Kamis. Sebab, pesta biasanya ramai dari Jumat sampai akhir pekan.

“Setiap hari Kamis. Karena orang pesta itu ramenya di Jumat sampai malam Minggu.”

Meski baru di Palmerah, dia bukan pemula. Sebelumnya, Pulung sudah berjualan di Kebayoran selama dua dekade.

“Saya baru di sini, tapi sebelumnya di Kebayoran udah 20 tahunan.”

Bahan bakunya juga dari Banten, tepatnya Rangkasbitung dekat Pandeglang. Penjor yang sudah dirangkai punya masa kadaluarsa. Kalau tiga hari tak laku, terpaksa dibuang.

“Tiga hari. Kalau nggak laku itu dikumpulin, abis itu dibuang.”

Fungsinya sederhana, kata Pulung. Cuma penanda ada hajatan. Tapi di balik kesederhanaan itu, ia jadi simbol awal sebuah perayaan yang sarat makna.

Di Palmerah, janur-janur itu terus digantung. Menjadi saksi bisu hajatan dan lambang cinta, dijaga siang malam oleh tangan-tangan pengrajin yang setia menunggu pesanan datang.

Editor: Lia Putri

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar

Terpopuler