“Jangan lupa ASEAN, jangan lupa yang di depan mata kita, yaitu pasar di kawasan kita sendiri,” kata dia.
“ASEAN punya perjanjian namanya RCEP yang ada China, Jepang, Korea, Australia, New Zealand. Ini semua bisa, sangat bisa kita juga manfaatkan untuk eh meningkatkan pasar kita,” tambahnya.
Namun begitu, ada satu hal yang ia titikberatkan: pasar dalam negeri. Penguatan pangsa domestik ini krusial. Jika industri bisa menguasai pasar lokal, profitabilitas akan datang. Efek gandanya bisa menopang pertumbuhan ekonomi secara lebih luas. Dari situ, nilai investasi bakal mengikuti dengan sendirinya.
“Amankan pasar dalam negeri maupun demand,” tegas Mari.
“Di dalam ketidakpastian, banyak yang mencari relokasi. Nah, di sinilah pentingnya PR dalam negeri kita juga untuk membuat Indonesia menarik untuk dunia investasi. Apakah itu untuk investasi portofolio, tapi yang penting juga untuk PMA. Karena itu akan menciptakan lapangan pekerjaan dan itu akan juga mendorong perekonomian.”
Peringatannya ini bukan tanpa alasan. Pada sesi perdagangan hari itu juga, rupiah tercatat melemah 0,27 persen ke level Rp16.823 per dolar AS. Tren ini sejalan dengan mayoritas mata uang Asia yang tertekan oleh dolar yang perkasa. Gejolak di Timur Tengah, ditambah langkah Iran menutup arus di Selat Hormuz, benar-benar mengancam stabilitas pasokan energi global.
Buktinya, harga minyak West Texas Intermediate (WTI) untuk suplai April 2026 sudah melonjak 7,10 persen ke level USD71,78 per barel. Pemerintah pun mulai menyoroti tekanan fiskal yang mungkin timbul jika inflasi harga energi benar-benar terjadi. Situasinya memang rumit, tapi kesiapan adalah satu-satunya jalan.
Artikel Terkait
Jadwal Imsak dan Subuh di Tangerang Raya untuk 3 Maret 2026
Pemerintah Tetapkan Sistem Satu Arah dan Ganjil-Genap untuk Mudik Lebaran 2026
Arab Saudi Bantah Lobi AS Serang Iran, Kilang Aramco Diserang Balasan
Imsak Jakarta Pagi Ini Pukul 04.33 WIB, Disusul Subuh 10 Menit Kemudian