Di tengah ketegangan global yang memanas, pemerintah Indonesia mengklaim kesiapan fiskalnya masih terjaga. Wakil Menteri Keuangan Juda Agung menyatakan kondisi keuangan negara siap merespons berbagai gejolak, termasuk konflik bersenjata yang melibatkan AS, Israel, dan Iran. Pernyataan ini disampaikannya dalam sebuah forum diskusi ekonomi di Jakarta Selatan, Senin lalu.
Menurut Juda, postur APBN dan sejumlah indikator makroekonomi nasional masih menunjukkan ketahanan. Prinsip kehati-hatian dan fleksibilitas jadi kuncinya.
"APBN kita itu memang didesain dengan prinsip prudent, fleksibel. Kami memastikan bahwa defisit di bawah 3 persen. Debt to GDP ratio sekitar 40 persen," ujar Juda.
Dia melanjutkan, "Fleksibel, artinya termasuk kalau terjadi shock-shock yang bersumber dari global."
Namun begitu, Juda tidak menampik adanya ancaman serius. Titik tekan utamanya adalah inflasi, yang berpotensi melonjak akibat harga minyak dunia. Pemicunya? Blokade Iran di Selat Hormuz. Dampak terhadap nilai tukar rupiah terhadap dolar AS juga disebutnya tak terelakkan. Kombinasi kedua hal ini diproyeksikan memberi tekanan ekstra pada ruang fiskal.
"Satu dolar kenaikan ICP (Indonesian Crude Price) itu menyebabkan kenaikan defisit Rp6,8 triliun. Kemudian kenaikan Rp100 rupiah per USD, pelemahan nilai tukar, itu dampaknya sekitar Rp0,8 triliun," jelasnya dengan rinci.
Artikel Terkait
Luhut Kenang Keteladanan dan Kesetiaan Try Sutrisno
15 Penerbangan Internasional Batal di Bandara Bali Imbas Penutupan Ruang Udara Timur Tengah
Kejagung Geledah Puluhan Lokasi di Riau dan Medan Terkait Dugaan Korupsi Ekspor Limbah Sawit
SKK Migas dan Investor Tandatangani FID, Proyek Gas Mako Masuk Tahap Implementasi