Di tengah kesedihannya, ada secarik harapan. "Mungkin hal itu mewujudkan Kuba merdeka suatu hari."
Reaksi Hati-hati dari Washington
Gelombang kejadian ini langsung sampai ke Washington. Reaksi pejabat AS terukur, bahkan hati-hati. Wakil Presiden JD Vance mengaku Gedung Putih sedang menyelidiki dan berharap situasinya "tidak seburuk yang kita khawatirkan". Detail masih minim.
Menteri Luar Negeri Marco Rubio, yang sedang berada di St. Kitts dan Nevis, ikut angkat bicara. Dia menekankan bahwa berbagai instansi masih mengumpulkan fakta.
"Cukuplah dikatakan bahwa sangat tidak biasa melihat baku tembak terjadi di laut lepas," tegas Rubio. Menurutnya, insiden semacam ini sudah lama tak terjadi dengan Kuba. Dia juga menegaskan bahwa pejabat AS tidak terlibat.
Kedutaan AS di Havana kini berusaha memastikan status kewarganegaraan para korban. Sementara itu, Jaksa Agung Florida, James Uthmeier, yang dari Partai Republik, langsung mengumumkan penyelidikan bersama federal. Katanya dengan nada keras, "Pemerintah Kuba tidak dapat dipercaya."
Kuba sendiri membalas. Lewat akun resmi kepresidenan di Platform X, mereka menegaskan hak untuk membela kedaulatan wilayahnya. Jarak yang hanya 145 kilometer dari Florida membuat perairan ini selalu rentan panas.
Latar Belakang Ketegangan yang Mendidih
Insiden pelik ini terjadi di tengah hubungan AS-Kuba yang lagi naik turun. Di era Presiden Trump, tekanan terhadap Havana kembali dikencangkan. Salah satu dampak paling keras adalah blokade minyak.
Sejak Desember, kiriman minyak dari Venezuela untuk Kuba terhenti total karena sanksi AS. Meksiko, pemasok lain, ikut menghentikan ekspor. Pulau itu pun dilanda krisis energi akut. Sekolah dibatasi, transportasi umum dikurangi, jam kerja dipotong hidup jadi semakin sulit.
Namun, ada angin perubahan baru-baru ini. Pemerintah AS mengumumkan akan melonggarkan kebijakan, mengizinkan lagi penjualan minyak Venezuela untuk keperluan komersial dan kemanusiaan di Kuba. Beberapa sanksi tetap dipertahankan, tapi ini langkah longgar pertama setelah sekian lama.
Di sisi lain, Rubio tetap bersikukuh dengan tuntutan reformasi politik di Havana. "Kuba harus berubah secara mendasar," serunya. Bagi banyak pengamat, insiden kapal cepat ini adalah percikan di tengah lautan ketegangan yang sudah lama mendidih. Sebuah tragedi yang mempertemukan ideologi, nostalgia, dan obsesi di atas gelombang Karibia.
Artikel Terkait
Natalius Pigai dan Guru Besar UGM Tantang Debat HAM Langsung di TV Nasional
Lapangan Padel di Pulomas Disegel Permanen Lantaran Tak Miliki Izin SLF
Pelatih Panjat Tebing Diduga Lakukan Pelecehan Seksual dan Kekerasan Fisik terhadap Delapan Atlet
Harga Perak Antam Tembus Rp55.100 per Gram, Lanjutkan Tren Kenaikan