BI Catat Kredit Disetujui Belum Dicairkan Tembus Rp2.500 Triliun

- Kamis, 19 Februari 2026 | 19:30 WIB
BI Catat Kredit Disetujui Belum Dicairkan Tembus Rp2.500 Triliun

Fasilitas kredit yang sudah disetujui tapi belum dicairkan oleh perbankan ternyata masih menumpuk dalam jumlah fantastis. Data terbaru dari Bank Indonesia per Januari 2026 menunjukkan, angka undisbursed loan itu membengkak hingga Rp2.506,47 triliun. Cukup besar, bukan?

Gubernur BI Perry Warjiyo mengungkapkan, jumlah menganggur tersebut setara dengan 22,65% dari total plafon kredit yang tersedia. Kalau dibandingkan dengan posisi akhir tahun lalu, ada kenaikan yang cukup signifikan. Pada Desember 2025, posisinya masih sekitar Rp2.439,2 triliun.

Dalam konferensi pers Rapat Dewan Gubernur di Jakarta, Kamis (19/2), Perry menekankan potensi besar dari dana menganggur itu.

"Pemanfaatan pembiayaan perbankan harus terus ditingkatkan. Kuncinya ada di optimalisasi fasilitas pinjaman yang belum digunakan ini," ujarnya.

Di sisi lain, dari kacamata penawaran, situasinya justru terlihat sangat mendukung. Likuiditas perbankan nasional digambarkan Perry dalam kondisi lebih dari cukup. Rasio Alat Likuid terhadap Dana Pihak Ketiga (AL/DPK) bertengger di level 27,54 persen. Pertumbuhan DPK sendiri juga cukup menggembirakan, tumbuh 13,48 persen secara tahunan.

Namun begitu, ada cerita yang sedikit berbeda di lapangan. Meski persyaratan kredit secara umum cenderung dilonggarkan, bank-bank ternyata masih bersikap agak hati-hati. Khususnya untuk segmen yang dianggap berisiko lebih tinggi, seperti kredit UMKM dan konsumsi. Sikap selektif ini masih tampak jelas.

Tapi jangan salah, optimisme BI tidak lantas surut. Lembaga ini tetap yakin target pertumbuhan kredit tahun 2026 bisa tercapai.

"Kami memprakirakan pertumbuhan kredit tahun ini ada di kisaran 8 sampai 12 persen," jelas Perry. "BI akan terus berkoordinasi dengan Pemerintah dan KSSK untuk memperbaiki struktur suku bunga dan mendorong pertumbuhan kredit itu sendiri," tambahnya.

Jadi, tantangannya sekarang jelas: bagaimana menggerakkan dana triliunan yang masih 'tidur' itu agar benar-benar bekerja mendorong roda perekonomian. Semua mata kini tertuju pada langkah koordinasi yang dijanjikan.

Editor: Yuliana Sari

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar