“Berarti itu bukan saja ghairu imkanur rukyat, tetapi ghoiru wujudul hilal. Belum wujud, masih di bawah ufuk.”
Kondisi ini ternyata tidak hanya terjadi di Indonesia. Nasaruddin menegaskan bahwa situasinya serupa di hampir seluruh kawasan Asia Tenggara, bahkan di negara-negara Muslim lainnya. Menurutnya, belum ada satu pun negara yang memenuhi kriteria imkanur rukyat untuk memulai Ramadan besok.
“Bahkan kalender hilal global versi Turki juga belum memulai Ramadannya besok,” ujarnya, memperkuat argumen.
Faktor lain yang menjadi pertimbangan adalah sudut elongasi yang tercatat sangat rendah, hanya antara 0 derajat 56 menit hingga 1 derajat 53 menit. Angka ini jelas tidak memenuhi syarat fleksibilitas hilal MABIMS yang sudah ditetapkan.
Dengan demikian, keputusan pun menjadi jelas. Berdasarkan perhitungan yang matang dan tanpa ada laporan hilal yang terlihat, 1 Ramadan 1447 H resmi jatuh pada Kamis, 19 Februari 2026. Masyarakat pun bisa mempersiapkan diri menyambut bulan suci dengan lebih tenang.
Artikel Terkait
Long Weekend Paskah, 73 Ribu Kendaraan Padati Jalur Puncak Bogor
Manchester City Hancurkan Liverpool 4-0, Haaland Cetak Hattrick ke Semifinal Piala FA
Tiga Prajurit TNI Gugur di Lebanon, Tiga Lainnya Terluka
FAO Catat Kenaikan Harga Pangan Global Kedua Kalinya Berturut-turut