Gubernur DKI Targetkan 10.000 Bus Listrik Transjakarta pada 2030 untuk Tekan Polusi

- Rabu, 11 Februari 2026 | 11:30 WIB
Gubernur DKI Targetkan 10.000 Bus Listrik Transjakarta pada 2030 untuk Tekan Polusi

Di tengah upaya serius menekan polusi udara, Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung punya rencana besar. Ia bakal menambah banyak armada bus listrik untuk Transjakarta. Langkah konkretnya sudah dimulai dengan penandatanganan peraturan tentang elektrifikasi bus-bus itu.

Targetnya jelas: jumlah bus elektrik harus terus naik dari tahun ke tahun. Saat ini, kata Pramono, Transjakarta sudah mengoperasikan sekitar 500 unit bus listrik. Namun angka itu masih jauh dari harapan.

"Kami menargetkan pada tahun 2030 jumlah tersebut meningkat menjadi sekitar 10.000 bus listrik," ucap Pramono.

Pernyataan itu disampaikannya dalam acara Townhall Meeting yang membahas solusi mengatasi polusi udara, digelar di M Bloc, Jakarta Selatan, Selasa (10/2/2026).

Dia yakin betul, menambah armada bus listrik bakal berdampak signifikan pada penurunan emisi dari sektor transportasi Jakarta. Polusi dari kendaraan memang jadi masalah kronis. Coba bayangkan, setiap hari ada sekitar empat juta orang yang masuk dan keluar Jakarta. Itu salah satu penyumbang utama udara kotor.

"Oleh karena itu, penggunaan transportasi pribadi harus dikurangi," tegasnya.

Caranya? Dengan mendorong masyarakat beralih ke angkutan umum. Tapi itu tidak bisa asal pindah. Layanannya harus ditingkatkan, baik dari segi kualitas maupun jangkauan. Itulah sebabnya, selain menambah bus listrik, Pemprov juga terus memperluas rute Transjakarta. Bahkan kini dikembangkan menjadi TransJabodetabek untuk menjangkau wilayah yang lebih luas.

Intinya, semua langkah ini bermuara pada satu tujuan: mengurangi ketergantungan warga pada kendaraan pribadi. Jika bus listriknya banyak, rutenya luas, dan layanannya nyaman, diharapkan perlahan-lahan kebiasaan masyarakat akan berubah. Jakarta butuh napas yang lebih bersih, dan Pramono menaruh harapan besar pada transformasi transportasi umum ini.

Editor: Yuliana Sari

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar