Logikanya sederhana. Dengan berkumpul dalam satu atap, pengelolaan berbagai lembaga itu akan jauh lebih efisien dan terintegrasi. Mereka bisa berbagi sumber daya, sehingga biaya operasional bulanan atau overhead bisa ditekan.
“Nanti akan dijadikan kantor bersama antara Baznas, Badan Wakaf Indonesia, Majelis Ulama Indonesia, BPKH, dan instansi-instansi keumatan lain. Supaya mereka tidak lagi terbebani overhead tiap bulan dan fokus untuk memberdayakan umat,” jelas Nusron.
Lalu, gedung setinggi apa yang akan dibangun? Rencana awalnya cukup ambisius. Berdasarkan informasi dari Kementerian Agama, gedung itu dirancang mencapai sekitar 40 lantai. Namun, Nusron enggan merinci lebih jauh soal teknis pembangunan dan anggarannya. Itu, kata dia, sudah menjadi wewenang kementerian terkait.
Sebenarnya, wacana ini sudah disinggung langsung oleh Presiden Prabowo. Dalam sebuah acara di Masjid Istiqlal belum lama ini, ia mengonfirmasi telah menyiapkan lahan seluas kurang lebih 4.000 meter persegi di kawasan prestisius itu.
“Saya sebagai Presiden Republik Indonesia, saya telah menyediakan lahan di depan Bundaran HI sebesar kurang lebih 4.000 meter untuk gedung bagi MUI dan bagi badan-badan umat Islam seperti Badan Zakat Nasional dan lembaga-lembaga lain,” kata Prabowo kala itu.
Bahkan, gedung yang rencananya setinggi 40 lantai itu nantinya tak hanya untuk lembaga resmi. Prabowo berjanji akan menyediakan ruang bagi organisasi kemasyarakatan (ormas) Islam yang membutuhkan tempat untuk beroperasi. Sebuah langkah yang dinilai banyak pihak akan memperkuat ekosistem keumatan di ibu kota.
Artikel Terkait
Arus Balik Lebaran, Ruas Tol Semarang Kembali Diberlakukan One Way Lokal
Korban Tewas Kecelakaan Mudik Lebaran 2026 Turun 30 Persen
1.528 SPPG Disuspensi, Tren Penutupan Turun Usai Peningkatan Kepatuhan SLHS
Prabowo dan Menteri Bahas Percepatan Program Sampah Jadi Energi