“Selama ini keberadaan satgas seperti saber pangan ini mampu mencegah lonjakan harga yang tidak wajar dengan menggerebek gudang penimbunan maupun memberi sanksi tegas pedagang curang,” jelas Rajiv.
Lebih dari sekadar penindakan, ia juga mengingatkan pemerintah untuk memperkuat sisi hulu dari sistem ketahanan pangan. Menurutnya, jaminan ketersediaan stok pangan strategis melalui cadangan pemerintah yang memadai serta distribusi yang cepat dan tepat sasaran merupakan pondasi utama stabilitas harga.
Transparansi Data sebagai Fondasi Kebijakan
Di luar langkah operasional, Rajiv menekankan aspek governance yang tak kalah penting. Ia merekomendasikan agar pemerintah memastikan transparansi data stok dan harga pangan secara real-time. Akses informasi yang terbuka, akurat, dan cepat dinilai akan mempermudah pemerintah dalam memetakan kondisi di lapangan dan merespons setiap gejolak harga dengan langkah-langkah yang terukur.
“Agar stabilitas harga pangan dapat terjaga menjelang Ramadan dan Idulfitri. Pemerintah tetap harus melakukan pemetaan, memperkuat cadangan pangan dan mempercepat distribusi, terutama ke daerah-daerah rawan seperti lokasi bencana atau 3T,” ungkapnya.
Rekomendasi kebijakan yang disampaikan ini menggarisbawahi pendekatan komprehensif, mulai dari pengawasan ketat di tingkat distribusi hingga penguatan logistik dan transparansi data. Pendekatan multidimensi tersebut dianggap esensial untuk melindungi kepentingan konsumen sekaligus menjaga stabilitas ekonomi mikro di tengah tekanan musiman.
Artikel Terkait
Mentan: Indonesia Perkuat Ketahanan Pangan Hadapi Ancaman Krisis Global
Lonjakan Pengunjung Ancol Capai 54.379 Orang di Hari Kedua Lebaran 2026
Ancol Dibanjiri Pengunjung H+2 Lebaran, Catat Lonjakan Signifikan
Mudik Lebaran Diproyeksi Dongkrak Pertumbuhan Ekonomi Nasional 2026