MURIANETWORK.COM - Perdana Menteri Australia Anthony Albanese tiba di Jakarta, Kamis (5/2/2026) malam, untuk memulai kunjungan kenegaraan selama tiga hari. Agenda inti dari kunjungan ini adalah penandatanganan sebuah traktat keamanan bersejarah bersama Presiden Prabowo Subianto, yang dijadwalkan berlangsung pada Jumat (6/2/2026). Kedatangan Albanese ini menandai sebuah momen diplomatik penting yang dinantikan oleh kedua negara tetangga tersebut.
Kedatangan di Halim Perdanakusuma
Pesawat Royal Australian Air Force yang membawa sang perdana menteri mendarat dengan mulus di Base Ops Lanud Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur, tepat pukul 19.13 WIB. Pesawat putih itu meluncur di landasan yang telah disiapkan untuk menyambut tamu negara. Begitu pintu pesawat terbuka dan Albanese menuruni tangga, ia langsung disambut dengan hangat oleh Menteri Luar Negeri Sugiono dan Menteri Investasi Rosan Perkasa Roeslani, yang mewakili pemerintah Indonesia.
Misi Utama: Traktat Bersejarah
Kunjungan resmi yang berlangsung hingga 7 Februari 2026 ini dilakukan atas undangan langsung Presiden Prabowo Subianto. Fokus utama dari rangkaian pertemuan adalah penandatanganan Traktat Keamanan Bersama Australia-Indonesia, sebuah dokumen yang dipandang sebagai penguat fundamental hubungan strategis kedua bangsa.
Dalam pernyataan resminya, PM Albanese menekankan signifikansi historis dari kesepakatan ini. Ia menyatakan bahwa traktat tersebut merupakan tonggak penting yang mencerminkan kepercayaan mendalam antara Canberra dan Jakarta.
"Ikatan Australia dengan Indonesia unik dan abadi sebagai tetangga, mitra, dan teman. Traktat ini menunjukkan kerja sama pertahanan yang semakin erat dan menegaskan hubungan kita lebih kuat dari sebelumnya," tegas Albanese.
Perdana menteri juga menyampaikan apresiasinya kepada Presiden Indonesia. "Saya berterima kasih kepada Presiden Prabowo atas undangannya untuk mengunjungi Indonesia guna menandatangani perjanjian bersejarah ini dan berharap dapat membahas cara-cara agar kita dapat terus bekerja sama," lanjutnya.
Langkah diplomatik ini dipandang oleh para pengamat hubungan internasional sebagai upaya konkret untuk memperdalam kemitraan di bidang keamanan dan stabilitas kawasan. Penandatanganan traktat keamanan ini diharapkan dapat memberikan kerangka kerja yang lebih solid dan berkelanjutan bagi kolaborasi kedua negara di masa mendatang.
Artikel Terkait
Armada Kemanusiaan Global Sumud Flotilla Bersiap Berlayar ke Gaza Akhir Maret
Nissan Perkenalkan Generasi Terbaru Serena e-POWER di IIMS 2026
Siswa SD di Ngada Meninggal Diduga Bunuh Diri, Kemendikdasmen Soroti Kesejahteraan Psikososial Anak
Anggota DPR Dorong Satgas Saber Pangan Optimalkan Pengawasan Harga Jelang Ramadan 2026