"Target kita adalah dia naik kelas, bukan hanya menciptakan UMKM baru. Nah kemudian dari situ, kita mulai dengan semua sistemnya. Jadi kalau masuk supply chain perusahaan besar kan clear. Dia mengikuti perusahaan besar,"
Membuat UMKM baru, dalam pandangannya, relatif mudah. Siapa pun bisa memulai usaha dari rumah. Tapi mencetak UMKM yang benar-benar berkembang dan mampu membuka lapangan kerja? Itu cerita lain. Itulah inti persoalannya.
"Kalau penciptaan UMKM mungkin gampang, semua bisa jadi UMKM, besok kita buka usaha sendiri dari rumah juga bisa. Tapi UMKM yang bisa naik kelas, yang bisa menciptakan lapangan kerja, nah ini yang jadi kuncinya. Sehingga kalau kita bicara tentang ekosistem UMKM, itu harus ngomong end-to-end,"
Lebih jauh, Shinta menekankan satu prinsip krusial: keseimbangan. Pengembangan UMKM tak bisa mengabaikan sisi permintaan. Sehebat apa pun produknya, tanpa pasar yang jelas, usaha itu akan stagnan.
"Jadi supply demand ini mesti jalan bersamaan. Kalau marketnya nggak ada, dia mau supply untuk siapa? Kalau demandnya ada dari segi ekspor, misalnya, oh ini bagus, gelasnya bagus, saya mau beli ini, seribu, dia langsung panik, gimana caranya bisa produksi seribu biji? Economic of skill-nya nggak ada, harganya tidak kompetitif. Jadi ini harus end-to-end,"
Pandangannya sederhana tapi menyentuh akar masalah. Membangun dari hulu ke hilir, secara utuh. Itulah kunci mendorong UMKM melompat lebih tinggi.
Artikel Terkait
Pemerintah Pastikan Stok Pangan Aman Menjelang Lebaran 2026, Harga Cabai Mulai Turun
Trump Kritik Sekutu NATO Soal Selat Hormuz, Harga Minyak Melonjak
Nvidia Perkenalkan DLSS 5 dan Sistem Vera Rubin di GTC Conference
Presiden Dewa United Pastikan Ivar Jenner Pulih, Siap Gabung TC Timnas