Mengingat banjir belum reda, upaya penanganan fokus pada pengungsian. Ke-21 lokasi pengungsian yang tersebar di enam kecamatan itu memanfaatkan berbagai fasilitas. Mulai dari masjid dan musala, sekolah, kantor desa, sampai tenda darurat didirikan untuk menampung warga.
Kecamatan Babelan menjadi wilayah dengan titik pengungsian terbanyak. Warga mengungsi di sejumlah tempat seperti Masjid Al-Hidayah, Masjid Jami, dan beberapa posko RW. Secara keseluruhan, pengungsi berasal dari 15 desa yang dianggap paling parah terdampak.
Namun begitu, masalahnya tak cuma sampai di rumah warga. Sektor pertanian pun ikut menjadi korban. Data BPBD mencatat sekitar 5.301 hektare lahan pertanian terendam. Ini tentu mengkhawatirkan karena berpotensi mengganggu produksi pangan masyarakat ke depannya.
Di lapangan, upaya penanganan terus digelar. Dody menegaskan bahwa BPBD bersama unsur terkait seperti TNI, Polri, dan relawan masih bergerak.
“BPBD bersama TNI, Polri, relawan, dan pemerintah desa terus melakukan pemantauan, evakuasi, serta pendampingan kepada warga terdampak. Koordinasi lintas sektor dilakukan agar penanganan berjalan optimal,” kata Dody.
Mereka melakukan asesmen, evakuasi, sekaligus mendistribusikan bantuan logistik untuk meringankan beban warga. Menunggu air surut, sambil berharap hujan tak lagi mengguyur dengan keras.
Artikel Terkait
Trump Pilih Kevin Warsh untuk Pimpin The Fed, Akhir dari Perburuan Berbulan-bulan
Siaga 3 Katulampa Picu Aksi Antisipasi Banjir di Ibu Kota
Layang-Layang hingga Biawak: Tantangan Tak Terduga di Balik Ketepatan Waktu Kereta Cepat Whoosh
Trump Umumkan Pilihan Ketua Fed Pagi Ini, Siapa yang Akan Gantikan Powell?