Spekulasi soal intervensi AS untuk mengerek nilai yen akhirnya dibantah keras. Menteri Keuangan Amerika Serikat, Scott Bessent, dengan tegas menyangkal rencana Washington menjual dolar untuk membeli mata uang Jepang itu.
“Sama sekali tidak,” ujar Bessent, menanggapi pertanyaan wartawan mengenai kemungkinan langkah tersebut. Jawabannya singkat dan jelas, tak banyak basa-basi.
Ia kemudian menambahkan, “Kami tidak mau banyak berkomentar selain bahwa kami menjalankan kebijakan dolar yang kuat.” Pernyataan itu sekaligus menegaskan posisi pemerintahnya, mencoba meredam segala bentuk desas-desus yang telah beredar luas di sejumlah media.
Menurut laporan Jiji Press, Kamis lalu, isu intervensi terkoordinasi antara Jepang dan AS ini memang sudah mengemuka sejak akhir pekan sebelumnya. Imbasnya, yen pun mulai menunjukkan penguatan terhadap dolar di pasar valuta asing.
Di sisi lain, gejolak juga dipicu oleh komentar Presiden Donald Trump. Dalam perdagangan di New York, Selasa lalu, dolar sempat terjun bebas ke level terendah tiga bulan nyaris di bawah 152,50 yen. Itu semua terjadi setelah Trump berkomentar bahwa nilai dolar “baik-baik saja”.
Komentar sang presiden itu, mau tak mau, langsung ditafsirkan banyak pelaku pasar sebagai sinyal toleransi pemerintah terhadap dolar yang lebih lemah. Tapi, dengan penegasan dari Bessent, suasana mungkin akan kembali berubah. Spekulasi memang masih ada, namun denyut pasar kini harus membaca dua suara yang berbeda dari Gedung Putih.
Nah, bagaimana kelanjutannya? Kita tunggu saja perkembangan di hari-hari mendatang.
Artikel Terkait
Belanda vs Jepang di Piala Dunia 2026: Duel Sengit Perebutan Tiket Perdana Grup F
Polisi Bongkar Praktik Judi Terselubung di Dua Arena Bermain Anak, Omzet Capai Rp2,1 Miliar per Bulan
Trump Kecam Serangan Israel di Beirut di Tengah Negosiasi Damai dengan Iran
Empat Tersangka Penganiayaan ART Indonesia di Malaysia Ditangkap, Kemlu Beri Pendampingan