Wamenpar: Indonesia Harus Jadi Produsen, Bukan Pasar, Pariwisata Halal Global

- Rabu, 28 Januari 2026 | 16:00 WIB
Wamenpar: Indonesia Harus Jadi Produsen, Bukan Pasar, Pariwisata Halal Global

Indonesia punya peluang emas untuk jadi pemain utama, bukan cuma penonton, di kancah pariwisata muslim global. Itulah inti pernyataan Wakil Menteri Pariwisata, Ni Luh Puspa, dalam sebuah acara belum lama ini. Menurutnya, dengan lebih dari 86 persen penduduk beragama Islam, potensi kita sebenarnya luar biasa. Sayangnya, selama ini kita lebih sering jadi target pasar produk halal dari luar negeri.

"Jangan kita yang jadi target negara-negara lain bikin halal produk dan lain sebagainya karena mau jualan ke Indonesia," tegas Wamenpar di acara Kadin Sharia Economic Outlook 2026, Rabu (28/1).

"Jangan sampai seperti itu," imbuhnya.

Ia menekankan, sudah waktunya Indonesia berubah haluan. Alih-alih hanya membeli, kita harus memproduksi dan menawarkan layanan pariwisata halal berkualitas untuk menarik wisatawan muslim dari seluruh dunia. Tentu saja, sambil tetap menguatkan pasar dalam negeri. "Kita harusnya produksi untuk menarget pasar yang ada di luar Indonesia," ujarnya. Kalau pun fokus ke pasar domestik, tujuannya harus jelas: memperkuat perekonomian lokal.

Ini bukan sekadar wacana. Langkah konkretnya perlu segera dipikirkan bersama oleh semua pihak agar potensi besar itu tidak menguap begitu saja.

Sebagai contoh, Wamenpar menyebut Bali. Pulau dewata itu mayoritas penduduknya beragama Hindu, tapi fasilitas untuk wisatawan muslim tersedia dengan baik. Mulai dari masjid hingga musala di berbagai hotel. Artinya, kesiapan itu sudah ada. Tinggal bagaimana kita mengembangkannya secara lebih masif dan strategis.

Di sisi lain, pasar yang dituju memang sangat menjanjikan. Data yang dipaparkan menunjukkan populasi muslim global pada 2025 mencapai 2,19 miliar jiwa. Angka itu diproyeksikan melonjak jadi 2,5 miliar dalam sepuluh tahun ke depan. Yang menarik, sekitar 70 persennya adalah generasi muda di bawah 40 tahun. Mereka inilah calon pasar, tenaga kerja, dan penggerak ekonomi di masa depan.

Lokasinya pun menguntungkan. Lebih dari dua pertiga muslim dunia tinggal di Asia. "Ini harusnya tidak terkena Trump Impact-lah ya," canda Wamenpar dengan ringan. "Kita narik turis ya udahlah, yang dari muslim Asia kita tarik ke Indonesia, banyak bisa kita dapat."

Kawasan Asia, dengan demikian, menjadi arena yang sangat strategis. Dan Indonesia berpeluang besar untuk menjadi pusatnya.

Editor: Bayu Santoso

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar