Uji jalan untuk bahan bakar Biodiesel B50 akhirnya dimulai. Kementerian ESDM bersama beberapa mitra terkait memulai tahap pengujian ini dengan melibatkan berbagai jenis kendaraan, dari yang ringan hingga berat.
Di rest area KM 102 A Tol Cikopo Palimanan, Kamis lalu, tim lapangan terlihat sibuk. Salah seorang anggota tim yang mengemudikan truk Hino Dutro mengungkapkan, mereka harus menempuh jarak sekitar 560 kilometer setiap harinya. "Kami uji semua, dari mobil kecil sampai bus dan truk. Rutinitas harian ya segitu jaraknya," ujarnya.
Namun begitu, perjalanan harian itu hanya sebagian kecil dari target keseluruhan. Setiap unit kendaraan wajib mencatatkan total 6 ribu kilometer sebelum uji coba dinyatakan selesai. "Totalnya 6 ribu kilometer, direncanakan rampung dalam tiga bulan," sambungnya. Untuk pengisian bahan bakar, tim mengandalkan stasiun pengisian di wilayah Kota Cirebon, mengingat B50 ini memang belum dijual bebas.
Lantas, apa tujuan program ini? Menurut penjelasan resmi dari Kementerian ESDM, B50 dirancang untuk menutup sisa kuota impor yang masih menganga di bawah kebijakan Biodiesel B40 yang berlaku sekarang. Dengan meningkatkan porsi Fatty Acid Methyl Ester (FAME) dalam solar, ketergantungan pada impor diharapkan bisa dipangkas signifikan. Intinya, pasokan solar nasional dari sumber dalam negeri akan jadi andalan.
Di sisi lain, dukungan dari kalangan industri otomotif pun mengalir. Hino, misalnya, turut serta dalam uji coba ini. Direktur PT Hino Motors Manufacturing Indonesia (HMMI), Harianto Sariyan, menegaskan komitmennya. "Kami selalu berusaha di depan jika ada perubahan kebijakan BBM. Kerja sama dengan pemerintah untuk B50 ini kami dukung. Tentu, saat ini masih tahap uji coba, hasilnya masih kita tunggu," kata Harianto di Purwakarta beberapa waktu yang lalu.
Setelah pengujian panjang ini usai, barulah HMMI bisa menarik kesimpulan. Mereka akan memeriksa reaksi mesin setelah 'dipaksa' menggunakan Biosolar B50, termasuk mengevaluasi kebutuhan filter solar dan komponen pendukung lainnya.
Executive Officer HMMI, Wingki Kurniawan, menambahkan poin penting. "Pada dasarnya, bahan baku B50 tidak jauh beda dengan generasi sebelumnya. Hanya saja, perlu penyesuaian lebih lanjut. Kita harus tahu dampaknya seperti apa terhadap kendaraan dalam jangka panjang," ucap Wingki dalam kesempatan yang sama.
Jadi, perjalanan masih panjang. Tiga bulan dan ribuan kilometer ke depan akan menentukan apakah B50 benar-benar siap diterapkan, atau masih butuh penyempurnaan lagi.
Artikel Terkait
Okupansi Whoosh dan LRT Jabodebek Melonjak Usai Kecelakaan Maut KRL di Bekasi
Asisten Masinis Curiga Sinyal Eror Sesaat Sebelum KA Argo Bromo Anggrek Tabrak KRL di Bekasi, 15 Tewas
Sri Mulyani Berduka atas Kecelakaan KA Argo Bromo Anggrek, Sehari Sebelumnya Ia Naik Rute yang Sama
Jasa Raharja Pastikan Santunan Cair untuk Seluruh Korban Kecelakaan Stasiun Bekasi Timur