FOMO atau Penasaran? Dilema Gen Z di Tengah Hiruk-Pikuk Tren

- Selasa, 27 Januari 2026 | 01:06 WIB
FOMO atau Penasaran? Dilema Gen Z di Tengah Hiruk-Pikuk Tren

Contoh gampangnya, waktu matcha latte tiba-tiba nge-tren. Banyak yang beli dan pamer foto gelas hijau itu, meski sebenarnya nggak terlalu suka rasanya pahit. Atau, milih jurusan kuliah cuma karena lagi populer dan dianggap menjanjikan, padahal minatnya nggak ada di situ. Di sini, tren jadi lebih berkuasa daripada suara hati sendiri.

Dalam kondisi kayak gini, FOMO nggak cuma bikin kita takut tertinggal. Dia juga bisa menjauhkan kita dari proses mengenal diri sendiri. Padahal, berbeda itu bukan berarti ketinggalan. Justru, keberanian buat nggak ikut arus seringkali butuh pendirian yang lebih kuat.

Masalahnya sebenarnya bukan pada tren itu sendiri. Mencoba hal baru ya sah-sah aja. Yang bahaya itu ketika kita ikutin tren bukan karena ketertarikan, tapi murni karena takut ketinggalan dan pengin hidup kita keliatan sama kerennya dengan orang lain.

Orang yang suka bereksplorasi biasanya digerakin sama rasa penasaran. Kalau FOMO, yang mendorong adalah kecemasan. Mau suka atau nggak, yang penting ikut, biar nggak dibilang kudet.

Jadi, nggak semua yang ikut tren itu FOMO. Dan nggak semua tren harus kita kejar. Yang perlu diwaspadai adalah ketika hidup kita mulai dikendalikan sama pencapaian orang lain seolah-olah kesuksesan mereka jadi kewajiban buat kita juga.

Pada akhirnya, setiap orang punya jalannya sendiri. Proses, hasil, dan waktunya berbeda-beda. Daripada sibuk nge-label orang lain, mungkin lebih baik kita fokus ke perjalanan diri sendiri. Soalnya, berkembang itu nggak harus selalu dengan mengikuti orang lain. Dan mencoba hal baru, ya kadang memang cuma karena penasaran aja, bukan takut ketinggalan.


Halaman:

Komentar