Dewan Keamanan PBB Lanjutkan Pembahasan Sanksi Iran, Rusia-China Gagal Blokir

- Sabtu, 14 Maret 2026 | 11:00 WIB
Dewan Keamanan PBB Lanjutkan Pembahasan Sanksi Iran, Rusia-China Gagal Blokir

NEW YORK Suasana di markas PBB tegang. Rusia dan China, kali ini, gagal menghentikan pembahasan sanksi terhadap Iran. Gagal total. Upaya mereka untuk memblokir diskusi di komite pengawas sanksi ditolak oleh mayoritas anggota Dewan Keamanan.

Ini terjadi di tengah eskalasi militer yang makin panas antara Washington dan Teheran. Perdebatan soal program nuklir Iran pun jadi medan tempur baru bagi kekuatan-kekuatan global.

Dewan Keamanan menyaksikan benturan visi yang nyata. Di satu sisi, blok Barat yang dipimpin AS mendesak penegakan sanksi. Di sisi lain, aliansi Rusia dan China bersikukuh menolak, menganggap langkah itu kontra-produktif.

Hasil pemungutan suara cukup jelas: sebelas negara memilih lanjutkan pembahasan. Hanya dua yang mendukung penghentian ya, Rusia dan China. Dua lainnya abstain.

Duta Besar AS untuk PBB, Mike Waltz, tak ragu menuding. Katanya, Moskow dan Beijing sengaja memberi “payung perlindungan” bagi Iran. “Menghambat kerja komite sanksi adalah langkah mundur,” ujarnya, Jumat (13/3/2026).

“Ketentuan PBB ini dirancang spesifik untuk mengurangi ancaman nyata dari program rudal dan nuklir Iran, plus dukungan mereka pada aktivitas terorisme,” tegas Waltz.

Menurutnya, kepatuhan terhadap embargo senjata dan pembekuan aset Iran adalah hal yang mendesak. Titik.

Laporan terbaru dari Badan Energi Atom Internasional (IAEA) justru memperkeruh suasana. Washington menyoroti kekhawatiran serius dari badan pengawas itu: stok uranium Iran yang sudah diperkaya hingga 60%. Level yang secara teknis sudah mendekati standar senjata nuklir.

Prancis ikut bersuara keras. Perwakilan Paris menyatakan, IAEA kini tak lagi punya jaminan penuh bahwa program nuklir Iran benar-benar damai. Mereka bahkan mengestimasi, cadangan material nuklir Iran saat ini secara teori bisa dipakai buat bikin hingga sepuluh hulu ledak. Angka yang cukup mengganggu.

Editor: Melati Kusuma


Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar