Pariwisata Indonesia Cetak Rekor Kunjungan dan Devisa, Tapi Peringkat ASEAN Masih Jadi Tantangan

- Kamis, 22 Januari 2026 | 13:00 WIB
Pariwisata Indonesia Cetak Rekor Kunjungan dan Devisa, Tapi Peringkat ASEAN Masih Jadi Tantangan

Kinerja sektor pariwisata Indonesia tahun lalu ternyata cukup solid. Menteri Pariwisata, Widiyanti Putri Wardhana, dengan percaya diri membeberkan data-data yang menurutnya menggembirakan. Hingga November 2025, tercatat ada 13,98 juta wisatawan mancanegara yang berkunjung.

Nah, angka itu diprediksi bakal melonjak lagi di penghujung tahun. Widiyanti memproyeksikan total kunjungan akan mencapai sekitar 15,34 juta. Kalau itu terwujud, artinya target atas pemerintah yang cuma 15 juta kunjungan bakal terlampaui. Bukan cuma jumlah orang, nilai belanjanya juga naik.

Rata-rata pengeluaran per turis internasional pada sembilan bulan pertama 2025 disebutnya menyentuh USD 1.259. Angka ini jelas mengungguli target yang sebelumnya ditetapkan di level USD 1.220.

Dampaknya terasa pada penerimaan devisa. Sektor ini telah menyumbang USD 13,82 miliar dan diproyeksikan menembus angka fantastis, USD 18,53 miliar, pada akhir Desember nanti.

Di sisi lain, peran pariwisata sebagai penyerap tenaga kerja juga tak main-main. Per Agustus lalu, sektor ini sudah menampung 25,91 juta pekerja. Targetnya, angka itu akan bertambah menjadi 26,53 juta di tahun 2026.

Namun begitu, kalau dilihat dari peta persaingan regional, posisi Indonesia masih ada PR-nya. Widiyanti secara transparan mengakui bahwa dari sisi jumlah kunjungan absolut, Indonesia masih duduk di peringkat kelima di ASEAN untuk periode Januari-November 2025.

Tantangannya beragam. Brand awareness negara tetangga seperti Thailand, yang gencar lewat diplomasi kulinernya, jauh lebih kuat. Belum lagi soal kebijakan visa Indonesia yang dinilai masih relatif lebih ketat dibandingkan pesaing.

Tapi jangan salah. Dari sudut pandang pertumbuhan, ceritanya berbeda. Indonesia justru menduduki peringkat kedua tertinggi di kawasan. Widiyanti lantas menekankan satu hal penting: soal metode perbandingan data yang harus apple-to-apple.

“Jika kita membandingkan dengan Malaysia, misalnya, kita perlu mengecualikan data ekskursionis, yakni pelancong yang hanya melintas singkat untuk kebutuhan harian. Dengan perbandingan yang setara, pertumbuhan Indonesia sangat kompetitif,” katanya.

Pernyataan itu disampaikan Menpar melalui laman resmi kementeriannya pada Kamis lalu, 22 Januari 2026. Intinya, optimisme itu ada, meski tantangan di lapangan tak bisa dianggap enteng.

Editor: Dewi Ramadhani

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar