Prabowo Khusus Undang 1.200 Akademisi Sosial Humaniora ke Istana

- Kamis, 15 Januari 2026 | 09:15 WIB
Prabowo Khusus Undang 1.200 Akademisi Sosial Humaniora ke Istana

Sejak pagi buta, kompleks Istana Kepresidenan di Jakarta sudah ramai. Lebih dari seribu dua ratus rektor, guru besar, dan pimpinan kampus baik negeri maupun swasta berdatangan dari seluruh penjuru Indonesia. Mereka berkumpul atas undangan Presiden Prabowo Subianto pada Kamis, 15 Januari 2026 ini. Jas almamater berwarna-warni mereka terlihat jelas, memenuhi halaman istana yang biasanya hening.

Menurut pantauan di lokasi, tamu-tamu terhormat itu mulai tiba sekitar pukul delapan pagi. Suasana terasa khidmat, namun juga penuh kehangatan. Pertemuan skala besar ini bukanlah yang pertama.

Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, Stella Christie, yang ditemui awak media, tampak antusias.

"Pada hari ini, Bapak Presiden mengumpulkan sekitar yang sudah hadir ini 1.200 pada hari ini, jadi banyak sekali yang hadir," ujarnya.

Stella menegaskan bahwa acara hari ini punya nuansa yang berbeda. Pertemuan serupa sudah pernah digelar setahun sebelumnya, tepatnya pada Maret 2025. Namun, menurut pengetahuannya, belum pernah ada presiden yang secara khusus mengajak berdialog para akademisi seperti ini.

"Ini adalah suatu yang sangat bersejarah," katanya.

Yang menarik perhatian, fokus pertemuan kali ini spesifik. Stella menjelaskan bahwa undangan dikhususkan bagi para akademisi di bidang sosial dan humaniora. Sepertinya, ini jawaban atas kekhawatiran bahwa bidang ini kurang mendapat perhatian.

"Tidak benar. Justru khusus hari ini Bapak Presiden mengumpulkan sosial humaniora," tegas Stella.

Undangan resminya sendiri sudah beredar sejak seminggu sebelumnya, dikirimkan oleh Kementerian Pendidikan Tinggi pada tanggal 9 Januari. Agenda resminya bertajuk "Taklimat dan Dialog bersama Presiden RI" dengan tema yang cukup menggugah: "Manusia, Pendidikan Tinggi, dan Sains untuk Kebangkitan Indonesia."

Pertemuan sebelumnya tahun lalu juga punya kesan mendalam. Kala itu, Prabowo secara terbuka menekankan peran kampus. Ia berharap dunia akademik tak hanya paham isu nasional, tapi juga mampu membaca dinamika global yang pengaruhnya langsung terasa di Indonesia.

Hari ini, dialog itu berlanjut. Dengan nuansa yang lebih spesifik dan semangat yang sama: mendengarkan suara dari menara gading untuk kemajuan bangsa.

Editor: Erwin Pratama

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar