Pemprov DKI Akhirnya Bongkar Tiang Monorel Mangkrak di Rasuna Said
Setelah bertahun-tahun jadi pemandangan tak sedap, tiang-tiang monorel yang mangkrak di kawasan Kuningan itu akhirnya dirubuhkan. Pekerjaan pembongkaran oleh Pemerintah Provinsi DKI Jakarta dimulai Rabu (14/1/2026) ini, mengakhiri kisah panjang proyek yang tak kunjung usai.
Gubernur Jakarta, Pramono Anung, langsung meluruskan soal anggaran. Isu yang beredar menyebut biayanya mencapai Rp100 miliar. Angka itu dibantahnya. Menurut Pramono, dana untuk membongkar fisik tiang-tiang "hanya" Rp254 juta.
"Jadi yang pertama anggaran untuk membongkar saja Rp254 juta,"
katanya, Rabu kemarin.
Lalu dari mana datangnya angka Rp100 miliar? Pramono menjelaskan bahwa anggaran sebesar itu sebenarnya untuk penataan kawasan secara komprehensif. Bukan cuma soal membongkar monorel, tapi mencakup perbaikan pedestrian, jalan, hingga pengelolaan taman di sepanjang Jalan HR Rasuna Said. Itu pun untuk jangka waktu satu tahun penuh.
"Yang Rp100 miliar itu adalah anggaran untuk mengatur pedestrian, jalan, taman selama satu tahun penuh. Sehingga dengan demikian itu untuk kebutuhan pengaturan, penataan jalan Rasuna Said sampai dengan satu tahun penuh,"
ujar dia memberi penjelasan.
Di sisi lain, langkah Pemprov ini diambil setelah menunggu terlalu lama. PT Adhi Karya, sebagai penanggung jawab proyek, dinilai tak kunjung bergerak meski sudah berkali-kali dapat surat permintaan. Kesabaran pemerintah daerah pun habis.
Pramono terang-terangan menyatakan, "Sudah kita surati dari dulu-dulu dan sudah, pokoknya besok (hari ini) kita bongkar lah."
Monorel Jakarta ini memang punya sejarah yang muram. Gagasan awalnya digaungkan oleh Gubernur Sutiyoso di tahun 2002, sebagai solusi transportasi massal baru. Rencananya ada dua jalur: jalur hijau (Semanggi-Casablanca-Kuningan-Semanggi) dan jalur biru (Kampung Melayu-Casablanca-Tanah Abang-Roxy).
Konstruksi tiang pancang bahkan sudah dimulai pada 2004. Tapi proyeknya mandek. Ada secercah harapan di tahun 2013 saat batu pertama dipasang di Tugu 66, Kuningan. Sayangnya, itu sekadar seremoni. Setelah acara itu, tak ada lagi kemajuan yang berarti. Tiang-tiang besi itu pun tetap berdiri, menjadi simbol kegagalan yang tak terelakkan.
Kini, proses pembongkarannya mulai. Satu per satu tiang itu akan hilang dari langit Jakarta. Mungkin ini adalah bab penutup dari sebuah proyek ambisius yang akhirnya hanya meninggalkan kenangan pahit dan besi-besi berkarat.
Artikel Terkait
Iran Buka Selat Hormuz untuk Kapal Sipil dengan Rute Tertentu, Larang Kapal Perang Asing
Program Makan Bergizi Tembus 27 Ribu Titik Layanan dan Libatkan 1,18 Juta Relawan
Berkas Perkara Ijazah Palsu Lima Tersangka Dilimpahkan ke Kejaksaan Tinggi DKI
Iran Buka Akses Penuh Selat Hormuz Selama Gencatan Senjata Lebanon Berlangsung