Di jantung Flores, Gunung Ranaka tampak tenang. Hampir bersahaja. Tapi jangan terkecoh. Di balik ketenangannya, gunung ini punya karakter yang tak bisa diremehkan, terutama bagi mereka yang ingin melangkah lebih jauh dari sekadar puncak.
Perjalanan biasanya dimulai dari basecamp di Manggarai Timur. Dari sini, jalur aspal mengantar kita ke pos pendakian terakhir. Perkiraannya sih sekitar sejam naik motor. Tapi jangan bayangkan jalan mulus. Jalurnya sempit, dan saat hujan atau tertutup lumut, aspalnya jadi licin banget. Makanya, motor trail atau motor dengan ban kasar lebih disarankan. Medan ini jadi pengingat pertama: akses yang terlihat gampang pun butuh kewaspadaan ekstra.
Nah, begitu sampai di pos terakhir, puncak Ranaka seolah sudah di depan mata. Cuma butuh lima menit berjalan kaki, kita sudah bisa berdiri di titik tertinggi Flores, sekitar 2.350 meter di atas permukaan laut. Puncaknya sendiri tak terlalu luas. Anginnya sering kencang, kabut bisa datang tiba-tiba, dan hawa dingin langsung terasa begitu cuaca berubah.
Tapi bagi banyak pendaki, justru di sinilah petualangan sesungguhnya dimulai. Perhatian mereka tertuju ke jalur lanjutan menuju Kawah Nampar Nos. Inilah bagian paling menantang sekaligus berbahaya dari seluruh pendakian Ranaka.
Dari puncak, jalur menurun tajam tanpa ampun. Tak ada papan penunjuk. Jejak setapaknya pun sering terputus oleh pasir vulkanik yang gampang bergeser. Jalurnya lebih mirip arah perkiraan daripada lintasan yang jelas. Di sini, kehadiran pemandu lokal bukan lagi sekadar pilihan, tapi sebuah keharusan.
Medannya didominasi pasir dan batu lepas dengan kemiringan yang ekstrem. Saat kabut turun, semuanya terlihat sama seragam dan minim penanda alam. Salah baca jalur sedikit saja, bisa-bisa kita terperosok ke lereng yang jauh lebih curam dan berbahaya.
Karena itulah, turun ke Kawah Nampar Nos sangat tidak disarankan untuk pemula. Bahkan pendaki berpengalaman pun harus berpikir ulang. Dianjurkan untuk berhenti sejenak di puncak, mengecek cuaca dan perlengkapan, serta memastikan koordinasi tim sebelum memutuskan turun. Di jalur ini, Ranaka benar-benar menguji kesabaran dan ketepatan keputusan di setiap langkah.
Bagi warga Manggarai, Ranaka bukan cuma gunung. Ia ruang sakral yang dihormati. Memakai jasa pemandu lokal, selain soal keselamatan, juga bentuk penghargaan pada kearifan dan adat yang telah menjaga keseimbangan alam ini turun-temurun.
Jadi, Ranaka mungkin tidak menawarkan pendakian berhari-hari. Tapi pengalamannya padat. Aksesnya cepat, puncaknya mudah diraih, namun jalur sunyi setelahnya benar-benar menguji nyali. Di sini, gunung mengajarkan satu hal: pencapaian tertinggi bukanlah tentang sampai di puncak, tapi tentang pulang dengan selamat.
Artikel Terkait
TNI Terobos Medan Terjal Gayo Lues, Bawa Bantuan dan Harapan
Chery Tiggo 5X Resmi Pamit, Tapi Janji Layanan Tetap Berjalan
Kemnaker Tegaskan: BSU 2026 Masih Simpang Siur, Waspada Hoaks!
UGM Buka Lowongan Pengolah Data, Gaji di Atas UMR untuk Lulusan D4-S1