Industri otomotif nasional ditutup dengan gempita di penghujung 2025. Penjualan melonjak hampir 27 persen di bulan terakhir itu, berhasil mendorong angka penjualan tahunan tembus lebih dari 800 ribu unit. Tapi, di balik angka yang menggembirakan itu, ada kecemasan yang mengendap.
Yannes Pasaribu, pengamat otomotif dari ITB, justru memandang performa ini dengan hati-hati. Ia khawatir tentang kuartal pertama 2026, terutama saat mendekati momen Lebaran di bulan Maret.
"Kita harus lihat nanti penjualan di Januari sampai Februari 2026," ujarnya.
"Kalau angkanya terjun bebas, artinya penjualan Desember sudah 'memakan' jatah penjualan awal tahun. Khususnya untuk kebutuhan tahunan Lebaran nanti."
Menurutnya, kenaikan di Desember lalu lebih merupakan hasil dari strategi pemasaran musiman yang jitu. Bukan sinyal pemulihan pasar yang sesungguhnya.
"Ini dipicu oleh strategi 'stuffing dealer' dan fenomena panic buying konsumen," jelas Yannes.
"Mereka memajukan pembelian karena takut harga naik, menyusul hilangnya insentif CBU untuk mobil listrik dan aturan TKDN baru di tahun 2026."
Nah, soal 'stuffing dealer' ini perlu dijelaskan. Ini adalah taktik pabrikan untuk mendongkrak angka penjualan "wholesales" alias distribusi dari pabrik ke dealer menjelang tutup buku. Angkanya memang bisa melambung tinggi, tapi belum tentu mencerminkan penjualan riil ke konsumen di tingkat dealer.
Artikel Terkait
Kia Resmi Transformasi, Siapkan Babak Baru di Indonesia
RUU Kontroversial: Anggota Kongres Usulkan Kekuasaan untuk Trump Caplok Greenland
Ibu Kota Terendam: 28 Lingkungan dan 6 Ruas Jalan Masih Digenangi Banjir
Riset: Utang RI Terancam Gagal Bayar Bunga di 2026