Namun begitu, sejauh ini diskusi itu masih bersifat awal. Seorang pejabat AS menyebutnya sebagai bagian dari perencanaan kontingensi standar. Belum ada keputusan final, apalagi pergerakan pasukan. Salah satu skenario yang beredar adalah kampanye udara besar-besaran ke beberapa situs militer Iran. Tapi, pejabat lain menegaskan, belum ada konsensus di internal pemerintah.
Posisi Ghalibaf sendiri cukup kuat. Selain sebagai ketua parlemen jabatan teratas ketiga di Iran ia adalah mantan komandan Korps Garda Revolusi Islam. Latar belakang militernya itu membuat setiap peringatannya punya bobot yang serius.
Sementara itu, unggahan Trump di media sosial justru menambah panas situasi. Ia menyebut Iran "sedang melihat kebebasan, mungkin seperti belum pernah sebelumnya," sambil menawarkan bantuan Amerika. Komentar itu muncul di tengah gelombang protes dalam negeri Iran yang makin mencekam.
Menurut kelompok hak asasi manusia, korban jiwa dalam demonstrasi itu sudah mencapai setidaknya 116 orang. Angkanya bisa terus bertambah, mengingat informasi sulit didapat akibat pembatasan komunikasi ketat oleh pemerintah.
Jadi, sekarang semua mata tertuju pada langkah selanjutnya. Apakah retorika akan berubah jadi aksi? Atau kedua pihak akan mencari jalan mundur? Yang jelas, situasinya sangat rentan, dan satu kesalahan kecil bisa memicu konsekuensi yang luas.
Artikel Terkait
Pohon Tumbang di Sudirman Pagi Ini, Lalu Lintas Menuju Bundaran HI Macet Parah
DKI Tambah 63 Sekolah Swasta Gratis, Total Jadi 103 pada Juli 2026
Pakistan Klaim Tewaskan 58 Tentara Afghanistan dalam Eskalasi Baku Tembak Perbatasan
Bapanas Pantau Kenaikan Harga Telur, Ayam, dan Cabai Rawit