Lalu, dari mana sumber dananya? Mayoritas, tentu saja, dari utang. Tapi menariknya, realisasi penarikan utang baru justru di bawah pagu. Tercatat Rp736,3 triliun, atau sekitar 94,9% dari target yang disiapkan. Di sisi lain, pembiayaan non-utang malah mencatatkan realisasi positif Rp7,7 triliun. Padahal, dalam asumsi APBN, pos ini awalnya diproyeksikan minus besar, lho.
Meski defisitnya melebar melewati batas UU APBN, pemerintah bilang strateginya tetap terukur. Tujuannya jelas: menjaga likuiditas agar program-program prioritas tidak mandek. Kelebihan pembiayaan tadi, menurut mereka, berfungsi sebagai bantalan fiskal yang penting di tengah ketidakpastian ekonomi awal tahun ini.
Singkatnya, kas negara dianggap masih aman. Ada buffer lumayan yang bisa dipakai untuk menghadapi gejolak di depan.
Artikel Terkait
Indro Warkop Prihatin: Pelaporan Pandji ke Polisi Dinilai Kemunduran Cara Berpikir
Ganjar Tegaskan PDIP Tolak Pilkada Lewat DPRD
Persija Siap Hantam Persib di GBLA, Perebutan Puncak Klasemen Taruhannya
Prabowo Resmikan Sekolah Rakyat, Jawab 3 Juta Anak Putus Sekolah