APBN 2025: Defisit Melebar, Purbaya Tegaskan Langkah Jaga Ekspansi Ekonomi

- Kamis, 08 Januari 2026 | 17:35 WIB
APBN 2025: Defisit Melebar, Purbaya Tegaskan Langkah Jaga Ekspansi Ekonomi

Di tengah dinamika global yang tak menentu, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa membeberkan laporan capaian APBN 2025. Intinya? Ekonomi kita masih tangguh. Dalam konferensi pers APBN KiTa di Jakarta, Kamis lalu, Purbaya menyampaikan optimisme itu dengan data di tangan.

“Pertumbuhan ekonomi 5,2 persen sepanjang 2025 dengan asumsi kuartal IV-2025 tumbuh 5,45 persen,” ujarnya.

Angka itu sesuai target. Performa kuat di akhir tahun jadi pendorong utamanya. Namun begitu, kalau kita lihat lebih detail, gambaran makro-ekonominya ternyata berwarna-warni. Tekanan dari luar negeri bikin beberapa indikator bergerak tak sesuai harapan awal.

Inflasi Desember 2025, contohnya, nyaris sentuh 2,92 persen. Padahal targetnya cuma 2,5 persen. Rupiah juga masih tertekan. Nilai tukarnya ada di Rp16.475 per dolar AS, cukup jauh dari proyeksi awal di level Rp16.000.

Tapi ada juga kabar baik. Yield Surat Berharga Negara (SBN) 10 tahun justru lebih bagus dari perkiraan, bertengger di 6,71 persen. Targetnya kan 7 persen. Harga minyak mentah Indonesia (ICP) malah jadi kejutan positif. Realisasinya cuma USD67,95 per barel, jauh melorot dari asumsi USD82. Sayangnya, ini tak diimbangi kinerja lifting migas yang masih jeblok. Lifting minyak mentah cuma 577,6 ribu barel per hari, sementara gas 965,5 ribu barel setara minyak per hari. Keduanya di bawah target.

Lalu bagaimana dengan kondisi APBN-nya? Realisasi sementara menunjukkan pemerintah memang memainkan peran sebagai pelindung. Belanja negara lebih ekspansif, mencapai Rp3.451,4 triliun atau 95,3% dari target. Di sisi lain, pendapatan negara ‘hanya’ Rp2.756,3 triliun (91,7% target).

Jelas, selisihnya bikin defisit melebar. Angkanya mencapai 2,92% terhadap PDB, atau sekitar Rp695,1 triliun secara nominal. Naik dari rencana awal 2,53%.

Purbaya dengan tegas menyatakan ini adalah langkah disengaja. Sebuah kebijakan fiskal yang sadar diri.

“Defisitnya memang naik ke 2,92 persen dari rencana awal 2,53 persen. Ini tadi dengan misi untuk menjaga ekonomi tetap bisa berekspansi di tengah tekanan global yang tinggi,” jelasnya.

Meski membesar, ia menegaskan batas 3% tidak dilanggar. Itu batas aman yang dijaga untuk kesehatan fiskal jangka panjang. Jadi, ceritanya adalah tentang menjaga keseimbangan yang sulit: mendorong pertumbuhan sambil memastikan fondasi anggaran tetap kokoh ke depannya.

Editor: Novita Rachma

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar