Iran Kutuk Operasi AS di Venezuela sebagai Tindakan Terorisme Negara di PBB

- Selasa, 06 Januari 2026 | 20:45 WIB
Iran Kutuk Operasi AS di Venezuela sebagai Tindakan Terorisme Negara di PBB

NEW YORK Kecaman Iran terhadap Amerika Serikat kembali bergema di ruang sidang PBB. Kali ini, menyusul operasi militer AS di Venezuela yang berujung pada penangkapan Presiden Nicolas Maduro dan Ibu Negara Cilia Flores awal Januari lalu. Menurut Iran, aksi itu bukan sekadar pelanggaran, melainkan sebuah tindakan terorisme yang dilakukan oleh negara.

Duta Besar Iran untuk PBB, Amir Saeid Iravani, tak sungkan menyampaikan kecaman keras itu di hadapan Dewan Keamanan. Suaranya tegas.

"Republik Islam Iran mengutuk dengan sekeras-kerasnya serangan militer Amerika Serikat terhadap Republik Bolivarian Venezuela," ujarnya dalam sidang, Selasa (6/1/2026).

Baginya, agresi semacam ini adalah pukulan serius bagi perdamaian dunia. Dampaknya bisa meluas ke mana-mana. Di sisi lain, penangkapan seorang kepala negara beserta pasangannya dinilai sebagai pelanggaran mencolok. Bukan cuma melawan hukum internasional, tapi juga menginjak-injak prinsip kekebalan diplomatik yang paling dasar.

Iran pun menegaskan dukungan penuhnya untuk pemerintah dan rakyat Venezuela. Mereka melihat kedaulatan sebuah negara sederajat telah diserang secara frontal.

Namun begitu, yang juga disorot adalah cara AS berdiplomasi. Mengedepankan kekuatan militer untuk menciptakan perdamaian? Itu terdengar seperti kembali ke zaman hukum rimba, kata Iravani. Praktik semacam ini, jika dibiarkan, hanya akan melumpuhkan sistem keamanan kolektif yang dibangun PBB.

Kritik lain dilayangkan kepada Dewan Keamanan PBB sendiri. Lembaga ini dinilai terlalu sering absen, atau mungkin tak berdaya, ketika menghadapi ancaman dan agresi yang dilancarkan AS. Kekhawatirannya jelas: situasi ini bisa memupuk budaya impunitas, rasa kebal hukuman, yang sangat berbahaya bagi tatanan global.

Iravani juga menyentuh hubungan bilateralnya dengan Washington. Ia menyebut Presiden AS Donald Trump telah berulang kali melontarkan ancaman kekerasan terbuka terhadap Iran, meski sambil klaim mendukung rakyat Iran.

"Iran menegaskan kembali hak inherennya untuk membela masyarakat, integritas teritorial, dan keamanan nasional," tegasnya. "Amerika Serikat akan bertanggung jawab penuh atas konsekuensi dari ancaman ilegal itu."

Pernyataan terakhirnya itu jelas merujuk pada komentar-komentar Trump terkai gejolak di Iran. Sebuah penutup yang meninggalkan nada peringatan, sekaligus mengukuhkan posisi Tehran yang tak mau berkompromi.

Editor: Raditya Aulia

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar