Skripsi, Stres, dan Euforia: Kisah Nyata Mahasiswa di Garis Akhir Kuliah

- Selasa, 06 Januari 2026 | 02:06 WIB
Skripsi, Stres, dan Euforia: Kisah Nyata Mahasiswa di Garis Akhir Kuliah

Rasanya jadi mahasiswa semester akhir itu benar-benar campur aduk. Di satu sisi, ada euforia karena garis finis sudah di depan mata. Tapi di sisi lain, beban tanggung jawab justru terasa makin menggila. Status ini nggak cuma soal hitungan SKS semata, lho. Lebih dari itu, ini adalah perjuangan untuk menutup satu bab penting dalam hidup.

Nikmatnya Hampir Sampai

Yang paling bikin semangat tentu saja rasa lega. Jadwal kuliah sudah jauh berkurang, waktu jadi lebih longgar. Akhirnya punya kesempatan untuk bernapas sejenak meskipun harus tetap ditemani setia oleh skripsi.

Bayangan wisuda sering jadi penyemangat utama. Membayangkan diri memakai toga, berfoto-foto konyol dengan teman seperjuangan, sampai unggah story Instagram dengan caption yang dirasa paling filosofis. Hal-hal kecil itu, jujur saja, bikin perjalanan terakhir ini sedikit lebih ringan untuk dijalani.

Skripsi, Sumber Stres Abadi

Kalau sudah bicara soal duka, ya skripsilah rajanya. Dari awal saja sudah pusing: cari judul yang belum pernah dipakai, kumpulkan data yang susah didapat, sampai menghadapi revisi yang seolah tak berujung. Baru selesai satu bab, eh dosen bilang bab sebelumnya perlu dibenahi lagi.

Proses bimbingan sendiri adalah cerita lain. Harus menyesuaikan dengan jadwal dosen yang super padat, butuh kesabaran ekstra. Belum lagi saat melihat progress teman yang jauh lebih cepat, rasa minder itu suka datang tanpa diundang.

Dihujani Pertanyaan

Mental mahasiswa semester akhir juga diuji oleh orang-orang sekitar. Pertanyaan seperti “Kapan sidang?”, “Wisudanya kapan?”, atau “Temanmu kan udah pada kerja tuh,” seolah jadi soundtrack wajib.


Halaman:

Komentar