Dari Warung ke Kelas: Kisah Ibu Selly Menyalakan Sekolah Gratis di Saparua

- Senin, 05 Januari 2026 | 23:05 WIB
Dari Warung ke Kelas: Kisah Ibu Selly Menyalakan Sekolah Gratis di Saparua

Dari sebuah pulau kecil di Maluku, terdengar cerita tentang keteguhan yang luar biasa. Di Saparua, Ambon, hidup seorang ibu rumah tangga bernama Selly. Namanya mungkin tak dikenal banyak orang, tapi perjuangannya menyentuh hati. Ia adalah nasabah PNM Mekaar, dan kisahnya lebih dari sekadar soal pinjaman modal.

Bagi Selly, pendidikan adalah panggilan jiwa. Dengan tekad bulat, ia mendirikan TK Sintiche untuk anak-anak dari keluarga yang kurang mampu. Yang luar biasa, sekolah ini ia jalankan secara gratis. Semua biaya operasional ditanggungnya sendiri, sebuah beban yang nyaris mematahkan semangatnya. Pernah ada masa di mana ia hampir menyerah.

Namun begitu, tekadnya untuk mempertahankan sekolah tak pernah padam. Demi menyambung hidup TK-nya, Selly membuka sebuah warung kecil. Usaha itulah yang kemudian membawanya berjumpa dengan PNM pada tahun 2022, lewat program Mekaar. Pertemuan itu menjadi titik balik. Ia mendapatkan akses modal dan juga pelatihan usaha. Perlahan, warungnya berkembang. Sekolah pun akhirnya bisa bertahan, bahkan kini menerima anak-anak dari para nasabah Mekaar lainnya.

“Dulu beta cuma pikir bagaimana caranya bantu ekonomi keluarga,” kenang Selly.

“Tapi sejak ikut Mekaar, beta belajar pimpin kelompok, saling berbagi, dan percaya kalau usaha kecil juga bisa berkembang asal jalan sama-sama. Dari pertemuan tiap minggu dan pendampingan itu, beta jadi lebih berani dan lebih yakin jalani semua.”

Di sisi lain, perjalanannya memang tak sendirian. Dukungan dari Account Officer PNM dan pertemuan rutin kelompok setiap minggu menciptakan sebuah ruang belajar bersama. Ruang itu mengasah kepercayaan diri dan jiwa kepemimpinan Selly, sesuatu yang mungkin tak pernah ia duga sebelumnya.

Cerita Selly ini sebenarnya adalah potret harapan. Ia membuktikan bahwa dari peran yang dianggap sederhana seorang ibu, seorang guru bisa lahir kekuatan besar yang mengubah masa depan banyak anak. PNM, dalam hal ini, hadir bukan cuma sebagai penyedia dana. Mereka lebih seperti pendamping yang menemani langkah-langkah kecil menuju kemandirian.

Lewat Mekaar, prosesnya berubah. Pembiayaan menjadi ajang belajar mengelola usaha, menguatkan mental, dan tumbuh bersama dalam kelompok yang saling menyokong. Dari satu pertemuan ke pertemuan berikutnya, kapasitas mereka dibangun perlahan. Tujuannya jelas: agar yang dulu hanya sekadar bertahan, kini punya keberanian untuk bermimpi lebih jauh.

Hasilnya? Data berbicara. Survei Indeks Mekaar 2024 menunjukkan angka yang cukup menggembirakan: 72% nasabah merasa perannya dalam pengambilan keputusan keluarga meningkat. Lalu, 74% mengalami kenaikan pendapatan. Yang tak kalah penting, 78% sudah memahami dan menerapkan laporan keuangan bisnis sederhana. Dan sebanyak 90% merasakan dampak kemandirian finansial.

Menanggapi capaian ini, Sekretaris Perusahaan PNM, Dodot Patria Ary, memberikan penekanan.

“Ini bukan sekadar survei,” tegasnya.

“Di balik angka-angka ini, ada cerita tentang ibu-ibu yang kini lebih berani berpendapat di rumahnya, usaha yang perlahan tumbuh, dan keluarga yang mulai berdiri di atas kakinya sendiri. Itulah adalah upaya kami untuk terus hadir di tengah masyarakat dan mendorong agar semakin banyak kisah Bu Selly lainnya dari seluruh Indonesia.”

Pada akhirnya, kisah dari Pulau Saparua ini mengingatkan kita pada satu hal. Perubahan besar seringkali berawal dari langkah kecil yang tak kenal lelah. Dan kadang, ia justru datang dari pulau-pulau terpencil, digerakkan oleh hati seorang ibu yang tak ingin anak-anak sekitarnya kehilangan cahaya masa depan.

Editor: Yuliana Sari

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar