23:59: Ketika Gosip dan Prasangka Menjadi Senjata dalam Hubungan

- Senin, 05 Januari 2026 | 05:06 WIB
23:59: Ketika Gosip dan Prasangka Menjadi Senjata dalam Hubungan

Suatu kali, saya menemukan sebuah kutipan di Instagram. Isinya kira-kira begini: "Gosip akan mati ketika sampai di telinga orang bijak. Rumor dimulai oleh para pembenci, disebarkan oleh orang bodoh, dan dipercaya oleh mereka yang dungu."

Waktu itu, saya tak menyadari kalau pernyataan tajam itu punya kaitan erat dengan sebuah novel. Baru belakangan, setelah membaca "23:59" karya Brian Khrisna, hubungan itu jadi jelas. Dan rupanya, banyak pembaca yang merasakan hal serupa mereka merasa 'relate'.

Konflik dalam cerita ini digerakkan oleh si pemeran utama laki-laki. Namanya Raga. Tokoh ini, bagi saya, adalah simbol serangan personal. Mirip banget dengan apa yang sering dialami lelaki di dunia nyata. Ia seperti mewakili narasi sumir yang bilang, "laki-laki tidak bercerita."

Di sisi lain, pandangan itu justru makin kuat di bagian resolusi cerita. Raga, yang hidupnya hampir berakhir, tidak mengabaikan Ami. Perempuan yang selalu ada untuknya itu. Menariknya, di detik-detik terakhir, Raga tak memandang Ami sebagai objek kesenangan semata. Ada sesuatu yang lebih dalam.

Setidaknya secara implisit, Raga mengutarakan kesedihannya yang tidak lagi terbendung kepada Ami sebagai simbol perpisahan.

Tapi simbol perpisahan itu sendiri tidak objektif. Makanya, wajar kalau pembaca lalu bertanya-tanya: sebenarnya, apa sih alasan Raga meninggalkan Ami? Pertanyaan itu menggantung, memicu banyak tafsir.

Yang unik dari novel 23:59 adalah bagaimana ia memainkan emosi pembacanya. Sedih, marah, lalu lucu, romantis, dan kembali lagi ke sedih. Di bab-bab awal, penulis seolah sengaja membangkitkan amarah dan rasa penasaran kita. Hasilnya? Kita jadi sibuk menerka-nerka: Raga ini lelaki pengecut, atau malah lebih buruk dari itu?

Namun begitu, ada satu momen yang paling saya soroti tentang Raga. Bagaimana caranya ia bertahan menghadapi cercaan dan hinaan dari orang-orang terdekat Ami, bahkan termasuk orang tuanya sendiri? Itu pertanyaan yang mengusik.

Serangan personal, seperti yang dialami Raga, bukan cuma soal luka psikis. Dampaknya bisa beruntun. Bisa bikin minat seseorang pada sesuatu jadi pudar, atau kemampuannya bersosialisasi menyusut drastis. Novel ini memberikan gambaran pedih terutama bagi para lelaki betapa mengerikannya prasangka dan fitnah yang terucap begitu saja.

Dengan mengangkat isu tekanan sosial, 23:59 mengajarkan pada kita betapa celakanya menghakimi orang lain tanpa tahu duduk perkaranya. Ironisnya, novel yang sama juga menyindir kita agar tidak mudah menyimpulkan sesuatu hanya dari omongan orang.

Saya jadi ingat, dan ingin mengingatkan para pembaca di sini, bahwa toxic relationship itu nyata. Benar-benar ada. Kemungkinan terburuknya? Ketika itu justru datang dari orang yang paling kita cintai. Melalui karyanya, Brian Khrisna menggambarkan sosok laki-laki sebagai korban ketidakadilan dalam sebuah hubungan. Sebuah hubungan yang pada akhirnya memaksa mereka untuk bungkam, untuk tidak bercerita.

Ini bukan sekadar karya fiksi. Bagi saya, ini adalah kisah nyata.

Terima kasih.

Editor: Erwin Pratama

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar