“Kami sudah tinggal di sini 8 tahun. Mereka membunuh kakak laki-laki saya. Ini sangat berat. Mereka menculik saudara-saudara saya,” katanya.
“Saya bersyukur kepada Tuhan atas semua ini karena ini sangat berat.”
Kerumunan di Doral bukannya berkurang, malah makin ramai hingga Sabtu pagi. Teriakan dalam bahasa Spanyol menggema, “¡El gobierno se cayó!” pemerintah telah tumbang. Seolah sebuah beban puluhan tahun akhirnya terlepas.
Gelombang migrasi warga Venezuela ke AS dan negara lain sebenarnya sudah dimulai sejak era Hugo Chavez di awal 2000-an. Tapi situasi betul-betul runyam setelah Maduro memegang kendali pada 2013. Ekonomi yang mengandalkan minyak ambruk. Angka kemiskinan meroket, mencapai sekitar 80 persen. Tak heran, hampir 8 juta orang memilih hengkang dari negerinya.
Menanggapi operasi ini, Presiden Donald Trump menyatakan AS akan mengambil alih pemerintahan sementara di Venezuela. Tujuannya untuk memastikan transisi kekuasaan berjalan aman dan lancar. Meski begitu, tidak ada kejelasan kapan proses itu akan berakhir.
Namun begitu, dari Karakas datang pernyataan keras. Pemerintah Venezuela menyatakan Maduro tetap presiden sah mereka, sekalipun saat ini berada dalam tahanan AS. Untuk mengisi kekosongan sementara, Wakil Presiden Delcy Rodríguez ditunjuk menjalankan tugas-tugas kepresidenan.
Jadi, sementara satu sisi dunia merayakan, sisi lain justru bersiap untuk babak baru yang tidak kalah rumit. Situasinya masih sangat cair, dan jalan menuju stabilitas tampaknya masih panjang.
Artikel Terkait
Target 82,9 Juta Penerima: Program Makan Bergizi Gratis Pacu Kualitas Jelang 2026
Rizki Juniansyah Naik Jadi Kapten, 52 Medali SEA Games TNI Dibayar Kenaikan Pangkat
Pohon-Pohon Bercerita: Video Mapping Meriahkan Malam di Sesar Lembang
MNC Life dan BPD DIY Kolaborasi, Asuransi Jiwa Kredit untuk Pinjaman Personal