KARAKAS Di tengah malam yang gelap, ibu kota Venezuela diguncang operasi militer Amerika Serikat. Kejadian Sabtu (3/1/2026) dini hari itu justru disambut euforia oleh sebagian warga Venezuela yang tinggal di luar negeri, terutama mereka yang berseberangan dengan rezim Nicolas Maduro.
Pasukan elite Delta Force AS berhasil menangkap Maduro beserta istrinya, Cilia Flores. Keduanya langsung dibawa ke New York untuk menjawab serangkaian dakwaan terkait narkoba dan senjata. Berita penangkapan itu menyebar cepat, memicu reaksi yang luar biasa.
Di berbagai kota Amerika, warga keturunan Venezuela baik yang sudah jadi warga negara AS maupun belum langsung membanjiri jalanan. Suasana lebih mirip pesta kemenangan. Ada yang menari-nari, bernyanyi, dan mengibarkan bendera nasional mereka. Yang menarik, sebagian bahkan keluar rumah masih dengan piyama, tak peduli dinginnya udara pagi.
Perasaan lega dan haru bercampur jadi satu. Banyak dari mereka menangis.
“Terima kasih, Tuhan, terima kasih presiden Amerika Serikat. Saya telah menunggu selama bertahun-tahun,” ucap Yajaira, seorang warga AS asal Maracaibo, Venezuela. Suaranya terdengar bergetar.
“Dia (Maduro) melakukan begitu banyak kerusakan. Ini mengerikan.”
Euforia terpusat di tempat-tempat yang menjadi komunitas mereka. Depan restoran El Arepazo di Doral, Florida, misalnya, penuh dengan orang yang bersorak. Kota itu memang dikenal sebagai salah satu kantong diaspora Venezuela terbesar di AS.
Bagi Yajaira, perayaan ini punya rasa pahit. Dia bercerita tentang penderitaan keluarganya di bawah rezim yang kini tumbang.
Artikel Terkait
Prabowo Tegaskan Swasembada Beras, Fokus Beralih ke Jagung dan Telur
Huntara Aceh Tamiang Capai 75 Persen, Ditargetkan Rampung Akhir Pekan
Indonesia Amankan Hotel dan Lahan Strategis di Mekkah untuk Kampung Haji
Cak Imin Anggap Candaan Prabowo Soal PKB Tak Perlu Dibesar-besarkan