Korut Luncurkan Rudal, Ganggu Kunjungan Presiden Lee ke Beijing

- Minggu, 04 Januari 2026 | 10:30 WIB
Korut Luncurkan Rudal, Ganggu Kunjungan Presiden Lee ke Beijing

Korea Utara kembali memulai tahun dengan aksi provokatif. Minggu pagi (4/1/2026), sejumlah rudal balistik meluncur dari wilayah sekitar Pyongyang dan menghujam perairan Laut Timur. Uji coba senjata pertama di tahun 2026 ini langsung menyulut kembali ketegangan di Semenanjung Korea yang memang tak pernah benar-benar reda.

Peluncuran itu terjadi di saat dinamika global sedang panas-panasnya. Konteksnya menarik: Presiden Korea Selatan, Lee Jae Myung, rencananya akan segera terbang ke Beijing untuk bertemu Presiden China Xi Jinping. Momentum diplomatik itu seolah diganggu oleh bunyi ledakan dari utara.

Militer Korea Selatan adalah pihak yang pertama kali mengonfirmasi. Lewat pernyataan Kepala Staf Gabungan (JCS), mereka menyebut rudal-rudal itu terdeteksi lepas landas sekitar pukul 07.50 waktu setempat.

“Kami menjaga posisi siaga penuh,” tegas JCS, seperti dikutip media lokal.

“Kerja sama berbagi informasi dengan AS dan Jepang juga terus berjalan intens, sambil kami waspada terhadap kemungkinan ada peluncuran susulan.”

Ini bukan yang pertama, tentu saja. Catatan menunjukkan, aksi serupa terakhir dilakukan Korut pada awal November 2025 lalu, juga rudal balistik jarak pendek ke arah yang sama. Jika dihitung-hitung, sepanjang tahun 2025 saja sudah ada enam kali uji coba rudal balistik mereka. Polanya jelas: konsisten dan mengganggu.

Lantas, apa motivasi di baliknya? Beberapa pengamat melihat ini bukan sekadar latihan rutin. Lim Eul-chul, seorang profesor dari Universitas Kyungnam, punya pandangan menarik. Menurutnya, aksi AS baru-baru ini di Venezuela yang berakhir dengan penangkapan Presiden Nicolas Maduro bisa jadi menjadi pemicu psikologis bagi Pyongyang.

“Operasi militer AS itu mungkin dirasakan Kim Jong-un sebagai ancaman eksistensial,” ujar Lim.

“Pada saat yang sama, ia jadi punya alasan lebih kuat untuk mempertahankan arsenal nuklirnya. Lihat saja, pesannya seperti: ‘Inilah yang terjadi pada negara yang lemah’.”

Jadi, di balik asap dan debu peluncuran rudal, ada narasi yang lebih dalam. Sebuah pesan yang dikirim bukan hanya ke Seoul, tapi juga ke Washington dan sekutunya. Ketegangan mungkin akan mereda beberapa hari ke depan, tapi akar masalahnya tetap membara, menunggu percikan berikutnya.

Editor: Hendra Wijaya

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar