Ini bukan yang pertama, tentu saja. Catatan menunjukkan, aksi serupa terakhir dilakukan Korut pada awal November 2025 lalu, juga rudal balistik jarak pendek ke arah yang sama. Jika dihitung-hitung, sepanjang tahun 2025 saja sudah ada enam kali uji coba rudal balistik mereka. Polanya jelas: konsisten dan mengganggu.
Lantas, apa motivasi di baliknya? Beberapa pengamat melihat ini bukan sekadar latihan rutin. Lim Eul-chul, seorang profesor dari Universitas Kyungnam, punya pandangan menarik. Menurutnya, aksi AS baru-baru ini di Venezuela yang berakhir dengan penangkapan Presiden Nicolas Maduro bisa jadi menjadi pemicu psikologis bagi Pyongyang.
“Operasi militer AS itu mungkin dirasakan Kim Jong-un sebagai ancaman eksistensial,” ujar Lim.
“Pada saat yang sama, ia jadi punya alasan lebih kuat untuk mempertahankan arsenal nuklirnya. Lihat saja, pesannya seperti: ‘Inilah yang terjadi pada negara yang lemah’.”
Jadi, di balik asap dan debu peluncuran rudal, ada narasi yang lebih dalam. Sebuah pesan yang dikirim bukan hanya ke Seoul, tapi juga ke Washington dan sekutunya. Ketegangan mungkin akan mereda beberapa hari ke depan, tapi akar masalahnya tetap membara, menunggu percikan berikutnya.
Artikel Terkait
Satgas Beri Peringatan Terakhir ke 20 Perusahaan Sawit dan Tambang Penunggak Denda
Target 82,9 Juta Penerima: Program Makan Bergizi Gratis Pacu Kualitas Jelang 2026
Rizki Juniansyah Naik Jadi Kapten, 52 Medali SEA Games TNI Dibayar Kenaikan Pangkat
Pohon-Pohon Bercerita: Video Mapping Meriahkan Malam di Sesar Lembang