“Sikap positif terhadap pernikahan dan melahirkan anak” menjadi komitmen yang diulang para pemimpin puncak dalam Konferensi Kerja Ekonomi Pusat bulan lalu. Tujuannya jelas: menstabilkan angka kelahiran.
Namun begitu, akar masalahnya dalam dan berlapis. Penurunan angka kelahiran sudah berlangsung puluhan tahun, didorong oleh kebijakan satu anak yang ketat (1980-2015) dan gelombang urbanisasi besar-besaran.
Di sisi lain, tekanan hidup generasi muda saat ini tak kalah beratnya. Biaya pengasuhan anak dan pendidikan yang melambung, ditambah dengan ketidakpastian karir dan kondisi ekonomi yang lesu, membuat banyak pasangan berpikir dua kali sebelum punya anak. Atau bahkan sebelum menikah.
Pencabutan pengecualian pajak untuk kontrasepsi ini, dalam konteks itu semua, terasa seperti sebuah sinyal kuat. Pemerintah tak hanya memberi insentif untuk punya anak, tapi juga secara halus mengurangi kemudahan untuk tidak memilikinya.
Artikel Terkait
Polri Gagalkan 1.243 Calon Jemaah Haji Ilegal Sepanjang 2025
Harley-Davidson Luncurkan Platform Ride untuk Transformasi Merek dan Perkuat Komunitas
Hujan Deras dan Angin Kencang di Bekasi Tumbangkan Pohon, Rusak Rumah, dan Lumpuhkan Jalan
CEO Danantara Tinjau Teknologi Mobil Otonom di Fasilitas EVE Energy China