Dari Migrasi Burung hingga Roti yang Digantung: Kisah Empati dalam Lintas Budaya

- Jumat, 02 Januari 2026 | 22:06 WIB
Dari Migrasi Burung hingga Roti yang Digantung: Kisah Empati dalam Lintas Budaya

Bayangkan sekelompok burung kapinis dan bangau yang terbang. Mereka bermigrasi dari delta sungai Tana di Kenya, menuju semenanjung Tanduk Afrika. Kepakan sayap mereka tak berhenti, menembus cuaca dan udara dingin di atas Laut Mediterania. Sebuah perjalanan panjang yang mengandalkan kebersamaan.

Adaptasi musim dingin hewan-hewan ini bukan cuma soal navigasi alami yang mengikuti medan magnet bumi. Lebih dari itu, ada makna simbolis yang dalam: tentang berbagi, melindungi, dan mengasihi. Pola kebersamaan ini rupanya tak cuma milik penghuni langit. Di tanah yang mereka lintasi, perilaku serupa justru menjadi cermin budaya masyarakatnya.

Ada tarikan kuat untuk merasakan ikatan, baik secara emosional maupun spiritual. Keterlibatan hati yang menempatkan empati di atas segalanya.

Empati sendiri berasal dari bahasa Yunani kuno, emphatia. Morfem ‘en’ artinya ‘dalam’, sementara ‘phatia’ (pathos) punya arti luas: penderitaan dan kasih sayang. Ini adalah daya welas asih yang muncul dari kedalaman jiwa, bagai mengarungi samudra luas.

‘Ubuntu’ di Afrika: Saya Ada Karena Kita Ada

‘Umuntu ngumuntu ngabantu.’

Begitulah bunyi sebuah peribahasa dalam Bahasa Zulu dari Afrika Selatan. Artinya kurang lebih, “Saya ada karena kita ada.” Kedengarannya mungkin menggelitik, tapi rangkaian kata ini punya makna yang sangat mendalam bagi penduduk setempat.

Konsep kebersamaan dan keterhubungan ini tak cuma untuk sesama manusia. Mereka juga mempercayai hubungan dengan kosmos dan roh leluhur. Kata ‘Ubu’ diartikan sebagai makhluk atau objek abstrak, sedangkan ‘ntu’ merujuk pada makhluk yang punya daya hidup dan terus bergerak di alam semesta.

Ini mirip seperti pohon Baobab raksasa yang bisa hidup ribuan tahun. Pohon kehidupan asli Madagaskar itu bukan cuma untuk dimanfaatkan. Ia menjalin ikatan kesatuan dengan segala yang ada di sekelilingnya. Sebuah interaksi yang menjaga keseimbangan, mengasihi, tanpa menghilangkan keindahan ciptaan-Nya.

Wangi Hangat ‘Askida Ekmek’ di Istanbul

Lain ladang, lain belalang. Kalau di Istanbul, Turki, tradisi empati justru disebarkan melalui wangi roti yang hangat. Namanya Askida Ekmek, atau ‘roti yang digantungkan’. Tradisi berbagi makanan ini sudah ada sejak masa Kesultanan Utsmani.

Caranya sederhana. Seorang pembeli membayar lebih untuk rotinya. Si penjual lalu akan menggantungkan roti tambahan itu di keranjang khusus. Roti berbentuk cincin bernama Simit itu siap diambil oleh siapa saja yang membutuhkan.


Halaman:

Komentar