Pagi di Solo memang selalu punya karakternya sendiri. Tenang, meski jam sudah beranjak. Tapi pagi itu, ketenangan itu malah jadi bumerang. Saya dan Haura sudah tak sabar pulang ke Bandung, membayangkan aroma masakan rumah yang sudah lama tak tercium.
Malam sebelumnya, saya menginap di kost-nya. Rencananya, kami akan berangkat bareng naik mobil lewat aplikasi.
"Kita berangkat pukul 07.30, ya. Keretanya kan jam 08.20, jangan sampai telat," kata Haura mengingatkan. Suaranya datar, tapi pesannya jelas.
Sabtu, 20 Desember 2025
Kami bangun pukul enam. Bersiap dengan santai, tanpa curiga bahwa kami sedang mengukir drama pagi untuk diri sendiri. "Aku belum siap, kita berangkat 07.45 aja, ya?" ujar Haura kemudian. Saya cuma angguk. Masih ada waktu, pikir saya.
Tapi ternyata, dapat pengemudi pagi itu susahnya minta ampun. Pukul 08.00 kurang, dan aplikasi masih terus mencari. Haura dan saya saling pandang, panik mulai merayap. Dalam hati, saya sudah pasrah. Tiket hangus, rencana berantakan.
Namun begitu, keajaiban datang. Seorang driver menerima order. Dia sempat menggerutu karena kami berangkat mepet banget, tapi kami cuma bisa menghela napas lega. Yang penting bisa sampai stasiun.
Stasiun Solo Balapan
Begitu turun dari mobil, kami langsung menyergap koper. Jam sudah 08.07. Sisa waktu: delapan menit. Stasiun ramai seperti biasa. Aroma kopi dan suara roda koper berseliweran. Gerbang pemeriksaan tiket terasa jauh sekali.
Antreannya sebentar sih, tapi bagi kami, setiap detik terasa seperti satu jam. Skenario buruk berputar di kepala. Lalu, teriakan petugas KAI memecah konsentrasi. "Penumpang Lodaya tambahan! Segera!" Suara itu justru bikin saya makin kalut.
Kami berlari. Orang-orang memberi jalan, mungkin mereka paham dari wajah kami yang sudah keburu-buru ini. Saat melirik ponsel, jantung saya langsung jungkir balik: tinggal empat menit.
Kereta sudah nampak. Tapi masih harus diseberangi, dan koper berat ini harus diangkat. Napas saya ngos-ngosan. Untunglah seorang petugas dengan sigap membantu mendorong koper saya naik. Saking paniknya, saya dan Haura pun terpisah.
Saya masuk ke gerbong eksekutif. Ini jelas salah gerbong, karena tiket saya ekonomi. Saya cuma bisa terduduk lemas, bingung campur senang karena setidaknya sudah di dalam kereta. Ternyata Haura ada di gerbong sebelah. Dia melambai, memberi isyarat untuk pindah.
Dengan sisa tenaga, kami menyeret koper menyusuri lorong kereta. Pakaian basah oleh keringat, tapi yang penting sudah tidak telat. Akhirnya, sampai juga di kursi kami di gerbong ekonomi 3.
Kami duduk, terengah. Hanya bisa meneguk air untuk menenangkan diri.
"Untung kita keburu," ucap Haura, memecah keheningan.
Saya manggut-manggut. "Iya. Ini pelajaran berharga. Jangan lagi."
Kereta pun mulai meluncur. Solo perlahan-lahan menjauh di balik jendela. Ketegangan tadi pelan-pelan mencair, digantikan oleh bunyi ritmis roda kereta di atas rel. Inilah saatnya bernapas.
Pemandangan di luar berganti. Sawarh hijau, anak-anak kecil yang melambaikan tangan, desa dengan kehidupan yang terlihat sekilas. Kereta melintasi Yogya, Kutoarjo, Purwokerto. Setiap stasiun punya dunianya sendiri yang kami lewati begitu saja.
Jam satu siang, perut mulai protes. Kami ke gerbong restorasi, beli makanan, lalu makan sambil menatap dunia yang bergerak di luar kaca.
Menyusuri Perut Pulau Jawa
Memasuki Jawa Barat, pemandangan berubah total. Bukit-bukit menghijau, terowongan gelap menyergap, lalu cahaya terang kembali. Di tikungan, kereta seperti meliuk pelan. Saat-saat seperti inilah yang bikin perjalanan kereta selalu spesial. Waktu terasa panjang. Ponsel pun terlupakan, kalah oleh panorama yang tak pernah sama.
Dan saya sadar, semua ketenangan ini hampir saja tak kami rasakan.
Stasiun Kiaracondong, Bandung
Menjelang sore, udara terasa lebih dingin dan lembap. Kabar bahwa Bandung sudah dekat. Saat kereta merapat di Stasiun Kiaracondong, matahari sore mulai menguning. Penumpang bergegas, mengambil barang, sibuk dengan akhir perjalanan mereka.
Saya turun dengan perasaan aneh. Lengkap. Perjalanan ini bukan cuma soal sampai, tapi tentang semua yang terjadi di antaranya. Kepanikan tadi pagi, yang rasanya seperti akhir dunia, kini jadi bagian dari cerita.
Nyaris tertinggal kereta mengajarkan satu hal: kita sering terlalu yakin pada waktu. Padahal, yang paling berkesan justru cerita di sepanjang jalan yang tak terduga. Dan cerita kami kali ini, berawal dari lari terbirit-birit di Solo, dan berakhir dengan damai di Bandung.
Artikel Terkait
BTN RUN 2026 Buka Pendaftaran, Targetkan 7.600 Peserta di Ancol
BI Salurkan Insentif Likuiditas Rp427,5 Triliun, Transmisi Suku Bunga ke Kredit Masih Terbatas
Pesawat Pelita Air Rusak Parah dan Terbakar di Pegunungan Nunukan, Tim Gabungan Diterjunkan
Sudin Pertamanan Jakarta Pusat Tangani 1.743 Pohon Rawan Tumbang Sepanjang 2026