“Salah satu kewajiban seorang pemimpin adalah siap untuk dihujat, siap untuk difitnah,” tegasnya. “Tapi tidak boleh kita terpengaruh dan tidak boleh kita patah semangat.”
Baginya, semua komentar bahkan yang terasa menyakitkan bisa dijadikan bahan evaluasi. Asal tidak mengalihkan perhatian dari tujuan utama.
“Semua itu kita terima sebagai ya sebagai koreksi juga, enggak apa-apa,” ujar Prabowo. “Walaupun itu fitnah, itu kalau kita tahu di hati kita bahwa itu tidak benar tapi itu jadi waspada bagi kita ya.”
Jadi, pemerintah memilih melihat komentar nyinyir sebagai peringatan. Bukan hambatan. Fokusnya tetap pada upaya meringankan penderitaan.
“Tapi yang fokus kita adalah bagaimana kita bisa mengurangi, meringankan penderitaan rakyat kita,” sambungnya. “Itu perkiraan kita sebagai pejabat dan pemimpin. Jadi hal-hal yang apa itu nyinyir-nyinyir itu kita anggap sebagai katakanlah sebagai peringatan bagi kita. Tapi kita tidak boleh terpengaruh ya.”
Prabowo menutup dengan pengakuan bahwa pikirannya juga terbagi. Di satu sisi, ada Aceh Tamiang yang membutuhkan perhatian khusus. Di sisi lain, ada 280 juta jiwa lainnya yang juga harus diurus.
“Saya walaupun tidak sehari-hari sama saudara ya saya di pusat ya, saya berpikir bagaimana saya atasi ini, membantu saudara di lapangan,” katanya. “Tetapi sementara nasib 280 juta rakyat Indonesia tetap harus kita urus secara nasional.”
Artikel Terkait
Kevin Diks Buka Suara: Bundesliga Lebih Berkesan Daripada Serie A
Target Pajak 2025 Dipastikan Meleset, Menkeu Ungkap Penyebabnya
Korban Tewas Banjir-Longsor Sumatera Tembus 1.157 Jiwa, 165 Masih Hilang
BRI Pacu Transformasi, Sasarkan Take-Off pada 2026