BNBA Fokus Pulihkan Trauma Warga Pascabencana di Sumatra

- Senin, 29 Desember 2025 | 08:25 WIB
BNBA Fokus Pulihkan Trauma Warga Pascabencana di Sumatra

JAKARTA Pasca banjir dan longsor yang melanda sejumlah wilayah di Sumatra, pemulihan fisik memang jadi prioritas. Tapi, bagaimana dengan luka di dalam? BNPB rupanya tak melupakan hal itu. Mereka secara aktif menyediakan layanan psikososial untuk membantu warga Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat mengatasi trauma.

Layanan ini berjalan beriringan dengan penanganan kesehatan jasmani. Menurut Abdul Muhari, atau yang akrab disapa Aam, kegiatan ini dijalankan secara rutin.

“Berkaitan dengan pemulihan atau layanan psikososial, di setiap kabupaten/kota secara berkala, satu hingga dua kali seminggu, terus kita lakukan,” jelas Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB itu dalam konferensi pers di Jakarta, Minggu (28/12/2025).

Ia menekankan, sasaran layanan ini tidak terbatas pada anak-anak saja. Para ibu dari warga terdampak juga mendapat perhatian khusus. Untuk menunjang program ini, BNPB tak bekerja sendirian.

“Kita mendatangkan tenaga ahli, dokter, psikiater, serta para relawan untuk melaksanakan kegiatan-kegiatan psikososial,” ujar Aam.

Harapannya jelas: memulihkan trauma secara bertahap. “Ini tetap kita programkan. Harapannya, secara bertahap dapat memulihkan trauma yang dialami saudara-saudara kita pascabencana,” tambahnya.

Di sisi lain, upaya perbaikan infrastruktur publik juga digenjot. Fokusnya pada fasilitas pendidikan sekolah dan madrasah yang rusak atau masih tertutup lumpur pasca banjir akhir November lalu. Targetnya ambisius tapi penting: agar aktivitas belajar bisa kembali normal di pekan pertama Januari 2026, bersamaan dengan awal semester genap.

Kabarnya, beberapa sekolah yang terdampak lumpur sudah bisa dipakai lagi. Namun begitu, untuk bangunan yang kondisinya parah, BNPB sudah menyiapkan solusi darurat.

“Sehingga, untuk sekolah-sekolah yang masih memerlukan perbaikan, proses belajar mengajar dapat dilakukan di tenda sementara,” tutup Aam.

Jadi, selain membenahi yang rusak, upaya mengobati ingatan tentang bencana itu terus digulirkan. Dua hal ini berjalan beriringan, karena pulih sepenuhnya butuh lebih dari sekadar tembok yang kokoh.

Editor: Bayu Santoso

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar