Hanya dua negara, setidaknya hingga saat ini, yang secara terbuka menyatakan kesediaan mengirimkan pasukan untuk misi stabilisasi internasional di Gaza. Menurut Duta Besar Palestina untuk Rusia, Abdel Hafiz Nofal, kedua negara itu adalah Indonesia dan Italia.
Pernyataan Nofal ini dilaporkan oleh kantor berita TASS, Senin lalu. Namun begitu, sang duta besar juga menyebut perkembangan soal pasukan multinasional ini terasa mandek. "Perkembangannya stagnan," ujarnya.
Rencana penempatan pasukan perdamaian ini sebenarnya bagian dari skema yang lebih besar. Sudah sejak September lalu, Gedung Putih merilis dokumen berisi 20 poin rencana perdamaian Presiden AS Donald Trump untuk Gaza. Isinya cukup komprehensif, mulai dari pembentukan pemerintahan sementara di wilayah tersebut, hingga ya penempatan pasukan stabilisasi dari berbagai negara.
Rencana itu perlahan mendapat momentum. Israel dan Hamas dikabarkan menyepakati implementasi tahap pertama di bulan Oktober. Lalu, langkah itu mendapat lampu hijau formal ketika Dewan Keamanan PBB mengesahkan resolusi yang mendukung rencana Trump pada November.
Kini, semua mata tertuju pada fase kedua. Menurut laporan Axios, Trump berencana mengumumkan dimulainya fase itu sebelum tanggal 25 Desember. Nah, fase inilah yang krusial: mencakup penarikan bertahap pasukan Israel dari Gaza dan digantikan oleh kehadiran pasukan penjaga perdamaian multinasional.
Jadi, meski kesiapan Indonesia dan Italia sudah diumumkan, jalan menuju Gaza masih panjang. Pertanyaannya sekarang, apakah negara-negara lain akan menyusul, atau justru rencana ini akan berjalan di tempat seperti kekhawatiran Duta Besar Nofal? Waktu yang akan menjawab.
Artikel Terkait
Pemerintah Fokuskan Transmigrasi pada Peningkatan Kapasitas SDM dan Infrastruktur
Armada Kemanusiaan Global Sumud Flotilla Bersiap Berlayar ke Gaza Akhir Maret
Nissan Perkenalkan Generasi Terbaru Serena e-POWER di IIMS 2026
Siswa SD di Ngada Meninggal Diduga Bunuh Diri, Kemendikdasmen Soroti Kesejahteraan Psikososial Anak