Setelah berhari-hari terisolasi, akhirnya pasokan BBM berhasil masuk ke Takengon. PT Pertamina menembus keterbatasan akses jalan dengan strategi yang cukup cerdik: mengerahkan berbagai moda transportasi. Pada Jumat lalu, mobil tangki mereka sudah bisa melintas masuk ke ibu kota Kabupaten Aceh Tengah itu, meski kondisi infrastruktur di sepanjang jalur masih memprihatinkan pascabencana.
Menurut Fahrougi Andriani Sumampouw, selaku Area Manager Communication, Relation & CSR Pertamina Patra Niaga Regional Sumbagut, perjalanan BBM ini dimulai dari Integrated Terminal Medan. Tahap pertama, bahan bakar diangkut lewat udara. Mereka menggunakan pesawat Air Tractor yang terbang dari Bandara Kualanamu menuju Bandara Rembele di Kabupaten Bener Meriah.
“Distribusi BBM dari Bandara Rembele menuju Aceh Tengah menggunakan mobil tangki menempuh waktu sekitar satu jam. Saat ini, kondisi jalur dari Bandara Rembele menuju Aceh Tengah relatif aman dan dapat dilalui oleh mobil tangki,” ungkap Fahrougi.
Nah, begitu mendarat, petugas segera memindahkan muatan. BBM itu kemudian dimasukkan ke dalam mobil tangki berukuran sedang dengan kapasitas 8.000 kiloliter. Pemilihan tangki ukuran medium ini bukan tanpa alasan. Jalanan yang masih sempit dan rusak mengharuskan kendaraan yang lebih lincah untuk bermanuver. Dari Rembele, barulah distribusi dilanjutkan lewat darat menuju SPBU dan berbagai posko penanganan bencana di Bener Meriah dan Takengon.
Pasokan yang tiba di Takengon totalnya mencapai 29.500 liter. Dari jumlah itu, sekitar 13.500 liter campuran Pertalite dan Biosolar ditujukan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat umum melalui SPBU.
Sementara itu, sisa 16 ribu liter lagi, juga jenis Pertalite dan Biosolar, punya tujuan khusus. Bahan bakar ini dialokasikan untuk mendukung operasi posko darurat yang dikelola BNPB dan Kodim dalam penanganan pascabencana.
“Penyaluran BBM menjangkau empat SPBU, yakni dua SPBU di Kabupaten Bener Meriah dan dua SPBU di Takengon. Kami berharap pasokan ini dapat menjaga kebutuhan energi bagi masyarakat, di tengah keterbatasan akses jalan,” ujarnya.
Fahrougi menegaskan komitmen Pertamina untuk terus mendistribusikan BBM dengan cara apa pun yang memungkinkan. Mereka siap memanfaatkan segala moda untuk menjangkau daerah yang masih terisolir. Skema mulai dari pesawat Air Tractor hingga jalur reguler, alternatif, dan darurat (RAE) dari Fuel Terminal Lhokseumawe akan dioptimalkan begitu kondisi memungkinkan.
Memang, ada kabar baik. Jembatan Teupin Mane yang vital, penghubung Lhokseumawe dan Bireuen, sudah selesai diperbaiki. Namun begitu, tantangan belum sepenuhnya berakhir. Beberapa ruas jalan masih tertimbun material longsor, belum lagi beberapa jembatan lain yang putus. Karena itulah, rute distribusi reguler dari Lhokseumawe ke Aceh Tengah belum bisa berjalan normal.
Kedepannya, Pertamina berjanji akan terus berkoordinasi erat dengan pemda, aparat, dan semua pihak terkait. Tujuannya satu: memastikan aliran BBM tetap lancar untuk mendukung pemulihan dan aktivitas warga di daerah terdampak.
“Pertamina tidak pernah lelah melayani masyarakat. Kami berharap masyarakat tetap sabar dan mendukung upaya-upaya Pertamina dan petugas di lapangan dalam menyalurkan energi kepada masyarakat dengan berbagai skema alternatif,” tutup Fahrougi.
Laporan dari lapangan menunjukkan upaya gotong royong yang solid. Meski medan berat, pasokan energi vital ini akhirnya bisa sampai juga ke tangan yang membutuhkan.
Artikel Terkait
Satgas: 5.039 Huntara Telah Dibangun, Huntap Masih Tahap Awal
Satgas Fokus Perbaikan Masjid dan Huntara Jelang Ramadan di Daerah Bencana
BRIN Desak Pemprov DKI Kaji Ulang Efektivitas Hujan Buatan untuk Tangani Banjir
Pemerintah Targetkan Groundbreaking Proyek Sampah Jadi Energi pada Maret 2026